Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa satu-satunya hal yang dapat menghentikan dirinya adalah “moralitasnya sendiri”, bukan hukum internasional. Pernyataan kontroversial ini disampaikan di tengah serangkaian kebijakan luar negeri AS yang menuai kritik dan menggemparkan dunia.
Seperti dilansir Anadolu Agency dan Japan Times pada Jumat (9/1/2026), pernyataan tersebut diungkapkan Trump dalam sebuah wawancara dengan media terkemuka AS, New York Times (NYT), yang dirilis pada Rabu (7/1) waktu setempat.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Beberapa kebijakan luar negeri Trump yang menjadi sorotan dan kontroversi antara lain keputusannya bergabung dengan Israel dalam mengebom fasilitas nuklir Iran tahun lalu, menggempur Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro, serta ambisinya untuk merebut Greenland dari Denmark, bahkan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer.
Ketika ditanya oleh NYT mengenai batasan kekuasaan global yang dimilikinya sebagai Presiden AS, Trump menjawab, “Iya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang dapat menghentikan saya.”
“Saya tidak membutuhkan hukum internasional,” tegas Trump. Namun, ia menambahkan, “Saya tidak berniat menyakiti orang-orang.”
Saat didesak lebih lanjut oleh NYT apakah pemerintahannya perlu mematuhi hukum internasional, Trump berkata, “Iya perlu.” Akan tetapi, ia memperjelas bahwa dirinyalah yang akan menjadi penentu kapan batasan tersebut berlaku untuk AS.
“Itu tergantung pada definisi Anda tentang hukum internasional,” katanya. Pernyataan Trump itu, menurut Mureks, terkesan mengabaikan hukum internasional dan batasan-batasan lainnya terhadap kemampuannya dalam menggunakan kekuatan militer untuk menyerang, menginvasi, atau memaksa negara-negara lain di seluruh dunia.
Penilaian yang diberikan Trump tentang kebebasannya dalam menggunakan instrumen kekuatan militer, ekonomi, atau politik apa pun untuk memperkuat supremasi AS, menurut laporan NYT, merupakan pengakuan paling blak-blakan tentang pandangan dunianya. Intinya adalah konsep bahwa kekuatan nasional, bukan aturan hukum, perjanjian, dan konvensi, yang seharusnya menjadi faktor penentu ketika kekuatan-kekuatan saling berbenturan.
Trump memang mengakui beberapa hambatan di dalam negeri, bahkan ketika ia mengejar strategi maksimalis untuk menghukum lembaga-lembaga yang tidak disukainya, membalas dendam terhadap lawan politik, dan mengerahkan Garda Nasional ke kota-kota besar AS meskipun ditentang pejabat setempat.
Dalam wawancara dengan NYT, Trump memperjelas bahwa dirinya menggunakan reputasinya yang tidak dapat diprediksi dan kesediaannya untuk dengan cepat mengerahkan tindakan militer, seringkali untuk memaksa negara-negara lain mematuhi tuntutannya.
Presiden AS berusia 79 tahun ini terdengar lebih berani dari sebelumnya dalam wawancara terbaru dengan NYT. Ia menyinggung soal keberhasilan serangan AS terhadap program nuklir Iran, membanggakan kecepatan dalam melumpuhkan pemerintahan Venezuela pada akhir pekan lalu, dan membahas soal rencananya menguasai Greenland yang menuai kritikan sekutu-sekutu NATO.
Ketika ditanya hal mana yang menjadi prioritas lebih tinggi, mendapatkan Greenland atau mempertahankan NATO, Trump menolak untuk menjawab secara langsung. Namun ia mengakui bahwa, “Itu mungkin sebuah pilihan.”






