Tren

Trump: “Senator Pembelot Seharusnya Malu”, Usai Senat Batasi Wewenangnya di Venezuela

Senat Amerika Serikat (AS) melayangkan teguran keras yang jarang terjadi kepada Presiden Donald Trump pada Kamis (8/1). Langkah ini diambil setelah Senat menyepakati pemajuan rancangan undang-undang (RUU) yang secara tegas menentang aksi militer lebih lanjut di Venezuela.

Pemungutan suara prosedural tersebut secara jelas menunjukkan kuatnya oposisi politik terhadap potensi intervensi asing serta meningkatnya kekhawatiran di kalangan Partai Republik terkait komitmen jangka panjang AS di luar negeri. Dalam proses tersebut, lima senator dari Partai Republik memilih untuk menyeberang ke kubu Demokrat, secara efektif membatasi wewenang Trump sebagai Panglima Tertinggi.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Keputusan ini muncul menyusul keluhan dari kedua belah pihak di Kongres mengenai minimnya konsultasi sebelum Trump memerintahkan militer untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Menurut Mureks, insiden ini memperparah ketegangan antara Gedung Putih dan legislatif terkait kebijakan luar negeri.

Presiden Trump merespons dengan keras terhadap pembelotan tersebut. Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa para senator Republik yang membelot “seharusnya malu” dan “tidak pantas terpilih kembali.”

“Pemungutan suara ini sangat menghambat pertahanan diri dan keamanan nasional Amerika, serta menghalangi kewenangan Presiden sebagai Panglima Tertinggi,” tulis Trump, menggarisbawahi kekecewaannya terhadap keputusan Senat.

Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, menambah daftar ketegangan diplomatik antara AS dan Venezuela.

Mureks