JAKARTA – Venezuela, negara di utara Amerika Selatan, menghadapi ironi mendalam. Meskipun menyimpan harta karun berupa cadangan minyak bumi terbesar di dunia, tambang emas, dan bijih besi, negara ini terperosok dalam krisis ekonomi dan politik sejak tahun 2014. Pengelolaan sumber daya alam yang buruk, ditambah dengan utang gagal bayar terbesar, menjadi pemicu utama.
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Venezuela mengalami inflasi tahunan sekitar 270 persen pada tahun 2025, dengan potensi melonjak hingga lebih dari 600 persen pada tahun 2026. Mureks mencatat bahwa kondisi ini sangat kontras dengan potensi kekayaan alam yang dimiliki.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Cadangan Minyak dan Mineral yang Terhambat
Mengutip USAToday, Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, meskipun kualitas minyaknya dinilai berada di bawah rata-rata standar AS. Potensi besar ini selama bertahun-tahun terhambat oleh sanksi internasional, krisis ekonomi, serta keterbatasan teknologi dan modal.
Selain minyak, Venezuela juga menyimpan kekayaan sumber daya mineral melimpah. Dewan Nasional untuk Ekonomi Produktif Venezuela menyebutkan bahwa produksi emas, batu bara, dan bijih besi mengalami pertumbuhan pada tiga kuartal pertama 2025, meski tanpa membeberkan angka rinci, sebagaimana dilaporkan Reuters. Namun, dalam satu dekade terakhir, sebagian besar produksi mineral Venezuela, termasuk nikel, bauksit, bijih besi, dan emas, mengalami penurunan signifikan.
Cadangan emas negara itu bahkan menyusut drastis. Pemerintah menggunakan logam mulia tersebut untuk menjamin pinjaman, melunasi utang, serta menyuntikkan devisa ke perekonomian di tengah krisis berkepanjangan dan sanksi AS.
Intervensi AS dan Harapan Investasi
Pekan lalu, Amerika Serikat (AS) berhasil menggulingkan pemerintahan Venezuela di bawah kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro. Operasi militer mendadak pada 3 Januari 2026 tersebut berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS.
Menyusul peristiwa tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan mengembalikan aliran minyak sebagaimana mestinya di Venezuela dengan dukungan perusahaan-perusahaan minyak global. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers setelah operasi militer.
Trump menilai, penahanan Maduro membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan minyak raksasa yang sebelumnya dilarang beroperasi untuk kembali mengakses cadangan minyak Venezuela yang sangat besar. Dalam konferensi pers tersebut, Trump menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan di Venezuela akan memungkinkan masuknya investasi asing, khususnya di sektor energi.
“Akan ada perusahaan minyak Amerika Serikat sangat besar terbesar di dunia yang akan masuk, menghabiskan miliaran dollar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut,” ujar Trump, dikutip dari kantor berita AFP.






