Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (2/1) mengeluarkan ancaman serius untuk turun tangan membantu para demonstran di Iran. Ancaman ini akan diwujudkan jika aparat keamanan Iran terus menembaki warga sipil yang berunjuk rasa.
Pernyataan Trump tersebut muncul di tengah gelombang kerusuhan yang telah menewaskan sejumlah orang dan menjadi ancaman internal terbesar bagi otoritas Iran dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Mureks, situasi di Iran semakin memanas dengan bentrokan yang terkonsentrasi di provinsi-provinsi bagian barat.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
“Kami siap tempur dan siap bergerak,” tulis Trump dalam unggahan media sosialnya, seperti dilansir Reuters pada Sabtu (3/1). Ancaman ini disampaikan beberapa hari setelah Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menanggapi pernyataan tersebut, pejabat tinggi Iran, Ali Larijani, segera memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Iran akan dianggap sebagai upaya destabilisasi seluruh kawasan Timur Tengah. Iran sendiri diketahui mendukung kelompok-kelompok proksi di Lebanon, Irak, dan Yaman.
Sebelumnya, pejabat di wilayah barat Iran telah menyatakan bahwa segala bentuk kerusuhan atau pertemuan ilegal akan ditindak secara tegas dan tanpa toleransi. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, juga telah mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden Dewan Keamanan PBB, meminta agar Dewan Keamanan mengutuk pernyataan Trump.
“Iran akan menggunakan hak-haknya secara tegas dan proporsional. AS memikul tanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul dari ancaman-ancaman ilegal ini dan eskalasi yang mungkin terjadi,” tulis Iravani dalam suratnya.
Demonstrasi yang terjadi di Iran dipicu oleh lonjakan inflasi yang signifikan. Meskipun skala demonstrasinya lebih kecil dibandingkan gelombang demonstrasi sebelumnya, aksi ini telah menyebar ke berbagai wilayah di Iran. Media yang berafiliasi dengan negara dan kelompok hak asasi manusia (HAM) melaporkan sedikitnya 10 orang tewas sejak Rabu (31/12), termasuk dua pria yang menurut otoritas setempat merupakan anggota Basij, pasukan paramiliter yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran.
Kepemimpinan ulama Iran telah berulang kali berhasil meredam gelombang protes dalam beberapa dekade terakhir, namun kerap dengan langkah-langkah keamanan ketat dan penangkapan massal. Namun, masalah ekonomi yang memburuk dinilai membuat pemerintah lebih rentan kali ini.
Bentuk Dukungan AS Belum Spesifik
Trump tidak menjelaskan secara spesifik bentuk dukungan apa yang mungkin diberikan AS terhadap para demonstran. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi demonstrasi yang baru-baru ini terjadi dengan lunak. Ia menjanjikan dialog bersama para pemimpin demonstrasi terkait krisis biaya hidup dan mengakui kegagalan pemerintah menjadi penyebab krisis yang terjadi.






