Sejumlah kabar menarik mewarnai industri otomotif nasional pada awal Januari 2026. Mureks mencatat, preferensi mesin bensin untuk Toyota Hardtop di kawasan Gunung Bromo menjadi sorotan, seiring dengan strategi Isuzu Motors yang memperkuat bisnis mesin truk rekondisi. Di sisi lain, PT Honda Prospect Motor (HPM) mengonfirmasi penghentian produksi Honda City Hatchback sejak Maret 2025.
Toyota Hardtop Bensin Jadi Pilihan Utama di Bromo
Dalam pantauan Mureks, fenomena menarik terjadi di kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kendaraan legendaris Toyota Land Cruiser FJ40 atau yang akrab disapa Hardtop bermesin bensin justru menjadi favorit para operator jip wisata, mengalahkan varian diesel yang lebih umum untuk kendaraan niaga.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Arlex Mardiyansyah, Ketua Paguyuban Jip Trans Bromo, mengungkapkan alasan di balik preferensi ini. “Dari dua jenis mesin yang umum digunakan—bensin dan diesel, operator Jip di Bromo justru lebih banyak memilih mesin bensin,” ujarnya. Menurut pria yang karib disapa Ardi ini, faktor cuaca ekstrem di pegunungan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan tersebut.
Isuzu Motors Fokus pada Bisnis Mesin Truk Rekondisi
Di tengah dinamika industri kendaraan niaga global, Isuzu Motors mengambil langkah strategis yang berbeda. Pabrikan asal Jepang ini tidak hanya mengandalkan penjualan unit baru, melainkan juga memperkuat bisnis mesin truk rekondisi.
Strategi ini dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan usaha serta memperpanjang usia pakai kendaraan komersial. Pendekatan ini dinilai cocok untuk diadopsi di Indonesia, mengingat potensi pasar kendaraan niaga bekas yang masih besar.
Produksi Honda City Hatchback Setop Sejak Maret 2025
Kabar lain datang dari segmen kendaraan penumpang. Berdasarkan data produksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Honda City Hatchback RS tidak lagi diproduksi di Indonesia terhitung sejak Maret 2025.
Menanggapi hal ini, Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan penyesuaian terhadap kebutuhan pasar. “Seluruh produksi dan aliran distribusi menyesuaikan kebutuhan pasar,” kata Billy.






