PT Toyota Astra Motor (TAM) menyatakan harapannya agar pemerintah dapat melanjutkan kebijakan insentif di sektor otomotif pada tahun 2026. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung pemulihan pasar mobil nasional yang masih menghadapi tekanan. Harapan tersebut muncul seiring upaya industri untuk kembali mendorong pertumbuhan setelah kinerja penjualan sepanjang 2025 mengalami perlambatan signifikan.
Direktur Marketing TAM, Jap Ernando Demily, menegaskan pihaknya tetap optimistis menghadapi kondisi pasar yang menantang. “Sebagai bagian dari industri, kami berupaya untuk terus optimis market bisa mulai recovery tahun ini,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2025). Ernando menambahkan bahwa pemulihan industri tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak terkait. “Lebih dari itu, ini juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh pihak yang terlibat untuk saling berkolaborasi dan berkontribusi dalam menumbuhkan pasar,” lanjutnya.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Menurut Ernando, peran pemerintah sebagai pemangku kepentingan sangat vital dalam mendorong pemulihan industri otomotif nasional. Dukungan kebijakan dianggap mampu mempercepat proses tersebut. “Kami juga berharap pemerintah sebagai stakeholder bisa memberikan inisiatif baru guna mempercepat upaya recovery industri otomotif nasional di tahun ini,” kata Ernando. Ia menjelaskan bahwa kebijakan insentif memiliki korelasi erat dengan komponen pajak yang secara langsung memengaruhi harga jual kendaraan. “Pajak merupakan salah satu komponen krusial yang memengaruhi harga jual kendaraan secara langsung. Sehingga perubahan apapun pada komponen ini akan berdampak langsung pada harga jual, yang kemudian juga berkaitan dengan demand di pasar,” jelasnya.
Dengan mempertimbangkan dinamika pasar dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin beragam, Toyota berupaya menghadirkan solusi yang komprehensif dan kompetitif. “Dengan mempertimbangkan kebutuhan mobilitas masyarakat yang beragam, Toyota selalu berupaya untuk menghadirkan tidak hanya sebuah kendaraan melainkan solusi mobilitas yang komprehensif dan kompetitif bagi masyarakat,” tambah Ernando.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan ritel mobil baru sepanjang Januari–November 2025 hanya mencapai 739.977 unit. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 8,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan wholesales tercatat sebanyak 710.084 unit, melambat 9,6 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), menurut Mureks.
Sejumlah insentif otomotif yang berlaku sebelumnya diketahui telah berakhir per 31 Desember 2025. Insentif tersebut meliputi pembebasan bea masuk mobil listrik murni secara utuh, PPN 10 persen untuk mobil listrik murni, hingga PPnBM DTP mobil hybrid sebesar 3 persen. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengirimkan usulan insentif sektor otomotif untuk periode fiskal 2026 kepada Menteri Keuangan. Namun, hingga pekan pertama Januari 2026, belum ada kepastian terkait kelanjutan kebijakan dimaksud. “Untuk otomotif, usulan insentif stimulus sudah kami kirim ke Pak Menkeu,” ujar Agus.






