Masjid Nabawi, salah satu masjid yang didirikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, berdiri megah di Kota Madinah. Sebagai masjid terbesar kedua di dunia dan tempat tersuci kedua dalam Islam setelah Masjid Al-Haram di Makkah, Masjid Nabawi menjadi tujuan utama jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia.
Bagi para jemaah yang sering menunaikan salat di area pelataran luar, keberadaan payung-payung raksasa di halaman masjid menjadi peneduh vital dari teriknya matahari Madinah. Namun, di balik fungsinya yang praktis, payung-payung ini menyimpan sejumlah fakta unik yang menarik untuk disimak. Kapan tepatnya payung-payung ini dibuka dan ditutup setiap hari, serta apa saja keistimewaannya?
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Jadwal Buka dan Tutup Payung Masjid Nabawi Setiap Hari
Berdasarkan informasi dari situs Prayer Times KSA, payung-payung raksasa di Masjid Nabawi mulai dibuka saat fajar menyingsing, tepatnya setelah salat Subuh. Kemudian, payung-payung tersebut akan menutup kembali setelah salat Maghrib.
Sistem buka-tutup payung ini beroperasi sepenuhnya secara otomatis. Mureks mencatat bahwa perangkat lunaknya tidak hanya mengikuti jadwal waktu, tetapi juga memperhitungkan berbagai faktor krusial. Faktor-faktor tersebut meliputi sudut matahari, kecepatan angin, kelembaban udara, hingga perubahan jadwal salat harian. Dengan demikian, payung-payung Masjid Nabawi selalu siap sedia saat dibutuhkan dan tidak pernah terbuka di waktu yang tidak tepat.
Apabila kondisi cuaca bersahabat, payung raksasa ini umumnya terbuka dari pukul 07.00 hingga 17.00 waktu setempat. Proses buka-tutupnya sendiri sulit untuk disaksikan secara keseluruhan, karena hanya beberapa payung yang bergerak, baik di area luar maupun sebagian di dalam masjid. Puluhan payung ini sangat membantu menaungi jemaah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid. Saat waktu Subuh dan Magrib, banyak jemaah memilih untuk salat di pelataran sambil menyaksikan proses buka atau tutup payung raksasa yang menakjubkan ini.
Fakta Unik Payung Masjid Nabawi
Berikut adalah beberapa fakta unik mengenai payung raksasa di Masjid Nabawi yang patut diketahui:
- Payung Raksasa Bisa Turunkan Panas 8°C
Payung ini terbuat dari material khusus yang dirancang untuk menciptakan efek pendinginan. Material tersebut mampu membuat udara di bawahnya terasa lebih sejuk sekitar 8°C. Oleh karena itu, meskipun matahari Madinah memancarkan panas yang menyengat, jemaah tetap dapat beribadah dengan nyaman di bawah naungannya. Tidak mengherankan jika pelataran Masjid Nabawi selalu ramai, terutama pada hari Jumat yang merupakan hari libur di Arab Saudi, dengan banyak jemaah berlindung dari terik.
- Bisa Tampung 800 Orang Sekaligus
Setiap unit payung raksasa memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 800 orang. Dengan demikian, saat masjid dipadati pengunjung pada salat Jumat, Tarawih, atau Idul Fitri, masih tersedia ruang yang cukup bagi semua orang untuk duduk, salat, membaca Al-Qur’an, atau sekadar beristirahat.
- Inspirasi Masjid-masjid di Indonesia
Keindahan dan fungsionalitas payung Masjid Nabawi telah menginspirasi banyak masjid di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Baiturrahman Aceh, dan Masjid Ar-Rahman Blitar, yang mengadopsi konsep serupa dalam desain arsitektur mereka.
- Tetap Kering Saat Hujan
Selain melindungi dari panas, payung ini juga berfungsi sebagai pelindung dari hujan. Dilengkapi dengan sistem drainase internal, air hujan akan dialirkan menjauh dari area salat. Hal ini memastikan jemaah tetap kering dan aman meskipun terjadi hujan deras.
- Ide Visioner Raja Abdullah
Pembangunan payung-payung ini merupakan perintah langsung dari Raja Abdullah bin Abdulaziz. Ini bukan sekadar proyek konstruksi biasa, melainkan wujud perhatian khusus dan visi beliau untuk memberikan perlindungan serta kenyamanan bagi para peziarah, yang dianggap sebagai tamu Nabi Muhammad SAW.
- Payung Raksasa Bisa Buka-Tutup Sendiri
Payung Masjid Nabawi yang menjulang setinggi hampir 20 meter ini memiliki kemampuan untuk buka dan tutup secara otomatis. Pada pagi hari sebelum azan Subuh, payung akan terbuka untuk memberikan naungan. Kemudian, saat senja menjelang azan Magrib, payung akan menutup kembali. Puluhan payung raksasa ini sangat membantu jemaah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid.
- Payung Raksasa Hasil Kerja Tim dari 3 Negara
Proyek pemasangan puluhan payung raksasa ini di pelataran Masjid Nabawi dimulai pada tahun 2010, sebagai bagian dari proyek besar bernama Medina Haram. Proyek ambisius ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak dari tiga negara, termasuk Menteri Perekonomian Arab Saudi, arsitek SL-Rasch, pabrik payung Liebherr dari Jerman, dan perusahaan Jepang Taiyo Kogyo. Seluruh pihak bekerja sama untuk memastikan payung-payung ini berdiri kokoh, aman, dan nyaman bagi jemaah dari seluruh dunia.
- Payung Bisa Tahan Angin Sampai 155 km/jam
Setiap payung Masjid Nabawi dilengkapi dengan anemometer, sebuah sensor yang berfungsi mengukur kecepatan angin. Apabila kecepatan angin terdeteksi melebihi 50 km/jam, sistem akan secara otomatis memperlambat pergerakan payung. Dengan teknologi ini, payung tetap aman dan stabil untuk melindungi jemaah di bawahnya, bahkan saat badai mencapai kecepatan 155 km/jam.






