Nasional

Terjebak Lingkaran Setan IPK Tinggi: Ancaman ‘Academic Validation’ bagi Kesehatan Mental Mahasiswa

Di tengah tuntutan pendidikan modern, banyak mahasiswa tanpa sadar terjebak dalam pusaran ‘academic validation’, sebuah fenomena di mana nilai diri diukur semata-mata dari pencapaian akademik. Obsesi mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, ranking kelas, atau berbagai penghargaan seringkali menjadi pendorong utama, didorong oleh tekanan orang tua, lingkungan sosial, dan standar masyarakat yang mengagungkan kesuksesan intelektual.

Namun, di balik kilau prestasi tersebut, tersimpan risiko besar terhadap kesehatan mental yang kerap terabaikan. Mengejar IPK sempurna, menurut Mureks, bisa menjadi pisau bermata dua, di mana kegagalan sekecil apa pun dapat dirasakan sebagai kegagalan pribadi yang mendalam.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Dampak Buruk Stres dan Kelelahan Kronis

Salah satu konsekuensi utama dari academic validation adalah peningkatan signifikan pada tingkat stres dan kelelahan kronis. Mahasiswa yang terus-menerus memaksakan diri untuk belajar tanpa jeda sering mengalami burnout, kondisi di mana energi fisik dan mental terkuras habis.

Penelitian menunjukkan bahwa tekanan akademik berkepanjangan ini dapat memicu berbagai gejala fisik, seperti sakit kepala, insomnia, hingga gangguan pencernaan. Lebih jauh, stres yang tidak tertangani mengganggu konsentrasi dan produktivitas, menciptakan lingkaran setan di mana upaya ekstra justru berujung pada hasil yang kurang optimal. Banyak yang akhirnya merasa lelah secara emosional, seolah hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi akademik.

Ancaman Kecemasan dan Depresi

Dampak psikologis lain yang tak kalah serius adalah kemunculan kecemasan dan depresi parah. Ketika validasi diri sepenuhnya bergantung pada nilai akademik, setiap penurunan IPK dapat memicu rasa takut gagal yang berlebihan, atau yang dikenal sebagai anxiety disorder.

Beberapa mahasiswa bahkan terjerumus dalam depresi karena merasa tidak berharga jika target prestasi tidak tercapai. Fenomena ini diperparah oleh paparan media sosial, di mana pencapaian akademik sering dipamerkan, memicu rasa iri dan rendah diri pada individu lain. Tanpa dukungan psikologis yang memadai, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi masalah mental jangka panjang yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Mengorbankan Keseimbangan Hidup dan Identitas Diri

Selain itu, academic validation seringkali menuntut pengorbanan keseimbangan hidup, termasuk hubungan sosial dan hobi pribadi. Mahasiswa yang terobsesi dengan IPK cenderung mengisolasi diri, menghindari kegiatan ekstrakurikuler atau pertemanan karena dianggap sebagai pengganggu fokus belajar.

Kondisi ini berujung pada kesepian dan minimnya dukungan emosional, yang pada gilirannya memperburuk kondisi psikologis. Tanpa ruang untuk relaksasi atau eksplorasi minat lain, individu berisiko kehilangan identitas di luar label ‘mahasiswa berprestasi’, membuat mereka rentan terhadap krisis identitas saat memasuki dunia kerja.

Membangun Validasi Diri yang Sehat

Untuk mengatasi dampak buruk academic validation, penting bagi mahasiswa untuk membangun self-worth yang tidak semata-mata bergantung pada pencapaian akademik. Langkah awal dapat dilakukan dengan menetapkan batas waktu belajar yang realistis, mencari bantuan konselor jika diperlukan, serta menghargai setiap pencapaian kecil di luar lingkungan kelas.

Institusi pendidikan juga memiliki peran krusial dalam mempromosikan pendekatan holistik, seperti menyediakan program kesehatan mental yang komprehensif dan memberikan pengakuan atas usaha, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, mengejar IPK tidak lagi menjadi beban yang memberatkan, melainkan bagian dari perjalanan pembelajaran yang sehat dan berkelanjutan.

Mureks