Konsep maskulinitas, yang secara tradisional kerap diasosiasikan secara eksklusif dengan kaum pria, kini mengalami pergeseran makna yang signifikan di era modern. Pemahaman baru ini tidak lagi membatasi maskulinitas sebagai sifat bawaan jenis kelamin tertentu, melainkan sebagai kumpulan nilai universal yang dapat dimiliki oleh siapa saja.
Menurut Mureks, maskulinitas kini dipahami sebagai serangkaian atribut positif seperti ketegasan, keberanian, kemandirian, serta kemampuan untuk mengambil keputusan. Pergeseran ini mencerminkan perkembangan masyarakat yang semakin terbuka terhadap keberagaman identitas dan peran sosial, menepis pandangan sempit yang telah lama melekat.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Maskulinitas Modern pada Pria: Lebih dari Sekadar Kekuatan Fisik
Bagi pria, maskulinitas modern tidak lagi semata-mata diidentikkan dengan dominasi atau kekuatan fisik. Pria masa kini diharapkan mampu mengekspresikan emosi secara sehat, membangun relasi interpersonal yang kuat, serta terlibat aktif dalam tanggung jawab domestik dan pengasuhan anak.
Maskulinitas yang sehat, dalam konteks ini, justru tercermin dari kemampuan seorang pria untuk bertanggung jawab, menunjukkan empati, dan menghargai orang lain. Ini menandakan adanya evolusi dari citra “pria tangguh” yang kaku menuju figur yang lebih holistik dan seimbang.
Perempuan dan Ekspresi Maskulinitas: Berani dan Berdaya
Di sisi lain, pada perempuan, maskulinitas termanifestasi dalam bentuk keberanian untuk menyuarakan pendapat, kemandirian ekonomi, dan kecakapan dalam memimpin. Banyak perempuan modern menunjukkan sifat tegas, rasional, dan kompetitif tanpa harus mengorbankan identitas feminin mereka.
Fenomena ini menegaskan bahwa maskulinitas dan feminitas bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dapat berintegrasi dan berjalan berdampingan, menciptakan individu yang lebih utuh dan berdaya.
Peran Media dalam Membentuk Persepsi Baru
Media massa dan budaya populer memiliki kontribusi besar dalam membentuk pemahaman baru tentang maskulinitas ini. Film, iklan, dan berbagai konten di media sosial kini semakin sering menampilkan figur pria yang sensitif dan peduli, serta perempuan yang kuat dan berdaya.
Representasi semacam ini membantu masyarakat untuk melihat bahwa sifat maskulin dan feminin tidak harus terikat pada stereotip lama, melainkan dapat diekspresikan dalam berbagai cara yang lebih inklusif.
Tantangan dan Pentingnya Literasi Gender
Meski demikian, pergeseran makna maskulinitas ini tidak selalu berjalan mulus. Masih banyak tekanan sosial yang menuntut pria untuk selalu terlihat kuat dan perempuan untuk tetap sesuai dengan standar tradisional, seperti berbicara lembut dan menuruti laki-laki. Akibatnya, individu yang menampilkan identitas di luar norma seringkali menghadapi stigma dan diskriminasi.
Dalam menghadapi tantangan ini, pendidikan dan literasi tentang gender menjadi kunci penting. Melalui pemahaman bahwa maskulinitas dan feminitas adalah konstruksi sosial yang fleksibel, masyarakat dapat lebih menerima keberagaman ekspresi diri. Hal ini juga dapat mendorong terciptanya relasi yang lebih setara dan saling menghormati antara pria dan wanita.
Membangun Keseimbangan Sosial Melalui Maskulinitas Positif
Pada akhirnya, konsep maskulinitas di zaman sekarang seharusnya dipahami sebagai nilai-nilai positif yang memperkuat pertumbuhan individu serta keseimbangan sosial. Baik pria maupun wanita memiliki hak untuk menunjukkan keberanian dan kemandirian tanpa rasa takut akan penilaian atau pandangan orang lain, demi terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan progresif.






