Anggapan bahwa Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah Bangsa Melayu yang diperluas kerap muncul di ruang publik. Pandangan ini, meski terdengar sederhana, sesungguhnya keliru dan berpotensi menyempitkan makna kebangsaan Indonesia yang majemuk. Untuk memahami persoalan ini, penting untuk membedakan secara jelas antara Bangsa Melayu dan Bangsa Indonesia.
Bangsa Melayu: Identitas Peradaban Lintas Batas
Bangsa Melayu terbentuk sebagai bangsa peradaban, jauh sebelum konsep negara-bangsa modern dikenal. Identitas kolektif ini dibangun di atas kesamaan bahasa Melayu, adat istiadat, sistem nilai, serta sejarah budaya yang kuat. Dalam perkembangannya, Islam menjadi unsur fundamental yang memperkokoh watak peradaban Melayu, tercermin dalam hukum adat, sastra, hingga struktur sosialnya.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Sebagai sebuah bangsa peradaban, Bangsa Melayu tidak terikat pada batas-batas negara modern. Keberadaannya melintasi berbagai wilayah dan kekuasaan politik. Komunitas Melayu dapat ditemukan di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand Selatan, bahkan hingga Filipina Selatan. Meskipun memiliki kewarganegaraan yang berbeda, mereka tetap berbagi ikatan budaya dan sejarah yang sama.
Ciri utama Bangsa Melayu terletak pada pembentukannya yang didasari oleh kesamaan budaya, bukan oleh kesepakatan politik modern.
Bangsa Indonesia: Identitas Modern Berbasis Kesepakatan Politik
Berbeda dengan Bangsa Melayu, Bangsa Indonesia merupakan entitas modern yang lahir bukan dari satu peradaban etnis tertentu. Identitas ini terbentuk dari pengalaman sejarah bersama sebagai bangsa terjajah. Berbagai kelompok etnis, dengan latar belakang bahasa, adat, dan agama yang beragam, sepakat untuk meleburkan diri dalam satu identitas kebangsaan.
Sumpah Pemuda pada tahun 1928 menjadi tonggak krusial dalam proses ini. Para pemuda dari berbagai latar belakang menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Pernyataan ini bukan refleksi kesamaan etnis, melainkan sebuah keputusan politik dan moral untuk bersatu. Oleh karena itu, Bangsa Indonesia sejak awal dirancang sebagai bangsa yang melampaui sekat-sekat etnis. Tidak ada satu suku pun yang dijadikan identitas tunggal bangsa, bahkan etnis terbesar sekalipun tidak diberi status sebagai pemilik Indonesia.
Perbedaan ini sangat mendasar: Bangsa Melayu lahir dari keseragaman budaya inti, sementara Bangsa Indonesia lahir dari kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Menurut Mureks, pemahaman ini krusial untuk menjaga fondasi kebangsaan yang inklusif.
Bahasa dan Negara: Manifestasi Perbedaan Konsep
Bahasa menjadi contoh paling nyata bagaimana perbedaan konsep ini diimplementasikan. Bahasa Melayu memang menjadi dasar bagi Bahasa Indonesia. Namun, ketika diangkat sebagai bahasa nasional, bahasa tersebut mengalami reposisi besar. Ia dilepaskan dari klaim etnis dan dijadikan bahasa persatuan agar tidak mencerminkan dominasi satu kelompok tertentu.
Bahasa Indonesia bukan lagi sekadar bahasa etnis Melayu, melainkan bahasa kebangsaan yang dipelajari dan dimiliki oleh seluruh warga negara tanpa memandang asal-usul budaya. Ini merupakan salah satu keputusan paling cerdas dalam sejarah kebangsaan Indonesia.
Hubungan dengan negara juga menunjukkan perbedaan yang tajam. Bangsa Melayu dapat terus eksis meskipun terpisah oleh batas negara. Sebaliknya, Bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menjadi bagian dari Bangsa Indonesia berarti terikat pada kewarganegaraan, konstitusi, serta nilai-nilai Pancasila.
Komitmen Kebangsaan, Bukan Keterikatan Budaya
Cara menjadi anggota kedua bangsa ini pun berbeda. Seseorang menjadi bagian dari Bangsa Melayu melalui keterikatan budaya, bahasa, dan adat. Sebaliknya, seseorang menjadi bagian dari Bangsa Indonesia melalui komitmen kebangsaan, bukan karena darah, bahasa ibu, atau adat asal. Mureks mencatat bahwa komitmen ini menjadi pilar utama persatuan.
Dengan demikian, Indonesia bukanlah “bangsa Melayu yang diperbesar.” Indonesia adalah bangsa baru, hasil dari kompromi sejarah dan kesadaran kolektif untuk membangun rumah bersama di atas keberagaman.
Menjaga Fondasi Kebangsaan di Tengah Politik Identitas
Memahami perbedaan fundamental ini menjadi semakin penting di tengah menguatnya politik identitas. Ketika identitas etnis atau peradaban tertentu dipaksakan sebagai identitas nasional, fondasi kebangsaan Indonesia justru terancam. Bangsa Indonesia hanya dapat bertahan jika terus dipahami sebagai proyek bersama, bukan milik satu etnis, satu budaya, atau satu peradaban.
Warisan Melayu memang merupakan salah satu fondasi penting—terutama dalam aspek bahasa—tetapi ia berdiri sejajar dengan warisan-warisan lain yang sama berharganya. Di sinilah letak kekuatan Indonesia: bukan pada keseragaman, melainkan pada kesediaan untuk bersatu tanpa harus menjadi sama.






