Surah Al-Qasas, surah ke-28 dalam Al-Qur’an, merupakan wahyu yang diturunkan di Makkah (Makkiyah) dan terdiri dari 88 ayat. Nama “Al-Qasas” sendiri berarti “kisah-kisah”, merujuk pada inti kandungannya yang memaparkan secara rinci rangkaian peristiwa kehidupan Nabi Musa AS, mulai dari masa kanak-kanak hingga pengangkatannya sebagai seorang rasul.
Surah ini secara fundamental menegaskan bahwa setiap kejadian dalam kehidupan manusia berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT. Melalui narasi umat terdahulu, khususnya kisah Nabi Musa dan Firaun, Allah SWT memberikan pelajaran mendalam mengenai kesombongan, penindasan, pentingnya kesabaran, serta janji pertolongan bagi hamba-Nya yang beriman dan tertindas.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Keutamaan Surah Al-Qasas untuk Kelapangan Rezeki
Selain kaya akan hikmah, Surah Al-Qasas juga memiliki keutamaan khusus bagi umat Muslim. Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah, mantan Mufti Agung Mesir dan anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar Mesir, menjelaskan bahwa terdapat amalan istimewa terkait surah ini. Beliau menyebutkan bahwa seseorang yang membiasakan membaca QS Al-Qasas ayat 24 sebanyak 100 kali setiap hari, kemudian dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Insyirah (Alam Nasyrah Laka Shadrak) sebanyak 40 kali, insya Allah akan memperoleh kelapangan rezeki dari Allah SWT.
Kelapangan rezeki yang dijanjikan tidak hanya terbatas pada aspek materi semata, melainkan juga mencakup berbagai bentuk karunia ilahi lainnya. Di antara karunia tersebut adalah dipermudahnya segala urusan hidup, termasuk dibukakannya jalan untuk mendapatkan jodoh yang baik.
Kisah Nabi Musa dalam Surah Al-Qasas
Kisah Nabi Musa AS dalam Surah Al-Qasas dimulai dengan gambaran penindasan Firaun terhadap Bani Israil di Mesir. Firaun digambarkan sebagai penguasa yang sewenang-wenang, memecah-belah penduduk, menyembelih anak laki-laki, dan membiarkan hidup anak perempuan Bani Israil (QS Al-Qasas: 4). Namun, Allah SWT berkehendak untuk menganugerahkan karunia kepada kaum yang tertindas, menjadikan mereka pemimpin dan pewaris bumi (QS Al-Qasas: 5-6).
Penyelamatan Ajaib Nabi Musa
Dalam catatan Mureks, kisah berlanjut dengan ilham Allah kepada ibu Musa untuk menyusui anaknya, dan jika khawatir akan keselamatannya, menghanyutkannya ke Sungai Nil dalam sebuah peti. Allah berjanji akan mengembalikannya dan menjadikannya seorang rasul (QS Al-Qasas: 7). Keluarga Firaun kemudian memungut Musa dari sungai, dan istri Firaun berkata, “Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita ambil dia sebagai anak.” (QS Al-Qasas: 9). Hati ibu Musa sempat kosong karena perpisahan, namun Allah meneguhkan hatinya. Saudara perempuan Musa mengikuti jejak peti tersebut, dan akhirnya Musa kembali menyusu kepada ibunya sendiri, yang merupakan janji Allah (QS Al-Qasas: 10-13).
Peristiwa di Masa Dewasa dan Pelarian ke Madyan
Setelah Musa dewasa dan sempurna akalnya, Allah menganugerahkan hikmah dan pengetahuan kepadanya (QS Al-Qasas: 14). Suatu ketika, Musa masuk ke kota saat penduduknya lengah dan mendapati dua orang berkelahi. Ia menolong seorang dari golongannya (Bani Israil) dan tanpa sengaja membunuh lawannya dari kaum Firaun. Musa menyesali perbuatannya dan memohon ampun kepada Allah (QS Al-Qasas: 15-17). Akibat insiden ini, Musa menjadi ketakutan. Seorang laki-laki datang bergegas dari ujung kota memberinya nasihat, “Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu. Maka, (lekaslah engkau) keluar (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.” (QS Al-Qasas: 20). Musa pun keluar dari kota dengan rasa takut dan waspada, menuju negeri Madyan (QS Al-Qasas: 21-22).
Kehidupan di Madyan dan Panggilan Kenabian
Di Madyan, Musa menolong dua perempuan yang sedang menghalau ternaknya dari sumber air. Setelah memberi minum ternak mereka, Musa berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS Al-Qasas: 24). Doa ini menjadi salah satu ayat yang dianjurkan untuk kelapangan rezeki. Kemudian, salah satu perempuan itu datang mengundang Musa atas perintah ayahnya. Ayah mereka, yang merupakan seorang yang saleh, kemudian menikahkan Musa dengan salah satu putrinya dengan mahar bekerja selama delapan hingga sepuluh tahun (QS Al-Qasas: 25-28).
Setelah menyelesaikan masa kerjanya, Musa bersama keluarganya dalam perjalanan melihat api di lereng Gunung Tur. Saat mendekati api tersebut, ia dipanggil dari pinggir lembah yang diberkahi, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al-Qasas: 30). Di sanalah Musa menerima mukjizat tongkat yang dapat berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya putih. Allah juga menguatkannya dengan saudaranya, Harun, sebagai pembantu dalam menyampaikan risalah kepada Firaun dan kaumnya yang fasik (QS Al-Qasas: 31-35).
Konfrontasi dengan Firaun dan Akhir Kaum Zalim
Musa dan Harun kemudian mendatangi Firaun dengan mukjizat-mukjizat nyata. Namun, Firaun dan para pembesarnya menuduh itu sebagai sihir dan menolak kebenaran. Firaun bahkan dengan sombongnya berkata, “Wahai para pembesar, aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selainku.” (QS Al-Qasas: 38). Ia dan bala tentaranya bersikap angkuh di bumi, mengira tidak akan dikembalikan kepada Allah (QS Al-Qasas: 39). Akibat kesombongan dan kezaliman mereka, Allah menghukum Firaun dan bala tentaranya dengan menenggelamkan mereka ke dalam laut (QS Al-Qasas: 40). Surah ini mengakhiri kisah dengan menegaskan bahwa Allah menganugerahkan Kitab Taurat kepada Musa setelah membinasakan generasi terdahulu, sebagai penerang, petunjuk, dan rahmat bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran (QS Al-Qasas: 43).






