Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mengimbau seluruh warga di delapan kabupaten wilayah tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Januari 2026. Peringatan ini disampaikan setelah wilayah Papua Pegunungan resmi memasuki musim penghujan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena, Laura SM Runggeari, di Wamena pada Sabtu (03/1), menjelaskan bahwa prakiraan cuaca menunjukkan wilayah Papua Pegunungan dan sekitarnya telah memasuki musim hujan. “Kami dapat menyampaikan saat ini Kabupaten Jayawijaya maupun tujuh kabupaten lain di Papua Pegunungan telah memasuki musim hujan, dan puncaknya (musim hujan) dari hasil prakiraan cuaca akan berlangsung pada bulan ini. Warga kami imbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan sehingga tidak terjadi korban jiwa saat terjadi hujan deras,” kata Laura.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Laura menambahkan, wilayah Papua Pegunungan termasuk dalam zona musim yang mengalami periode panas dan hujan, dengan durasi masing-masing dapat berlangsung dua hingga tiga bulan ke depan. “Papua Pegunungan masuk zona musim, sehingga dari hasil pengamatan cuaca puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Desember 2025 hingga Januari-Februari 2026 atau tiga bulan ke depan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ujarnya.
Menurut Laura, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puncak musim hujan sering terjadi pada Februari dan Maret. Hal ini, menurut Mureks, menjadi perhatian serius mengingat bencana alam seperti banjir dan tanah longsor pernah melanda Kabupaten Jayawijaya pada April 2025.
Laporan analisis prakiraan cuaca yang disusun Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena selama periode April hingga November 2025 juga mencatat banyaknya kejadian bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan tanah longsor, di wilayah Papua Pegunungan. “Kami juga telah membuat laporan analisis prakiraan cuaca selama periode satu tahun sejak April hingga November 2025, wilayah Papua Pegunungan banyak mengalami kejadian bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Warga harus waspada terhadap perubahan cuaca dua bulan ke depan,” tegas Laura.
Ia mencontohkan, bencana hidrometeorologi yang menyebabkan banjir dan tanah longsor pernah terjadi di Distrik Dal dan Mebarok, Kabupaten Nduga, pada tahun lalu. Laura menjelaskan, faktor dominan pemicu fenomena ini adalah gelombang atmosfer dari skala regional. “Akibat kelembaban udara yang tinggi menghasilkan uap air yang cukup banyak sehingga membentuk proses terjadinya awan hujan dan menyebabkan terjadinya hujan deras,” pungkasnya.






