Keuangan

Saham Grup Bakrie Melonjak di Awal 2026, BNBR Pimpin Penguatan Lebih dari 60 Persen

Saham-saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie menunjukkan performa impresif pada awal tahun 2026. Sejumlah perusahaan, mulai dari PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) hingga PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), kompak mencatatkan lonjakan harga yang signifikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, saham BNBR memimpin penguatan dengan melonjak 60,63% secara year to date (ytd) ke level Rp 204 per lembar. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi di antara saham-saham Grup Bakrie lainnya. Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, penguatan harga saham BNBR didorong oleh aksi korporasi perseroan.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

“Sahamnya kurang likuid,” kata Nafan kepada Bisnis, meskipun mengakui adanya dorongan dari aksi korporasi. Pada akhir tahun 2025, BNBR melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia, mengakuisisi 90% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan PT Waskita Toll Road. Nilai transaksi akuisisi ini mencapai Rp 3,56 triliun.

Selain BNBR, beberapa emiten Grup Bakrie lainnya juga mencatatkan kenaikan. Catatan Mureks menunjukkan, saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) terbang 20,90% ytd ke level Rp 810 per lembar, sementara PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) naik 3,75% ytd menjadi Rp 1.660 per lembar. Emiten kendaraan listrik, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), juga melonjak 17,16% ytd ke Rp 990 per lembar.

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim di sektor batu bara, menguat 26,23% ytd ke Rp 462 per lembar. Anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), turut naik 11,82% ytd ke level Rp 1.230 per lembar. Emiten lain yang juga menguat adalah PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) dengan kenaikan 68,29% ytd, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) naik 9,63% ytd, dan PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) menguat 13,64% ytd.

Analisis Kinerja Emiten Pendorong Kenaikan

Analis Astronacci, Gema Goeyardi, menjelaskan bahwa penguatan saham BRMS ditopang oleh kinerja fundamental yang membaik, seiring lonjakan harga emas. Pada kuartal III/2025, BRMS membukukan kenaikan pendapatan sebesar 69% secara tahunan, dari US$ 108,47 juta menjadi US$ 183,57 juta. Laba bersih BRMS juga meningkat 129% secara tahunan menjadi US$ 37,61 juta, didorong oleh peningkatan produksi dan harga jual emas.

“Kami yakin bahwa pertumbuhan laba bersih yang signifikan akan membawa BRMS ke level berikutnya,” kata Gema dalam risetnya pada Rabu, 7 Januari 2026. Ia merekomendasikan beli untuk saham BRMS dengan target harga Rp 1.400 per lembar.

Untuk saham DEWA, Analis Henan Putihrai Sekuritas, Irsyady Hanief, memberikan rekomendasi beli. Rekomendasi ini mempertimbangkan proses pemulihan kinerja perusahaan yang dinilai berkelanjutan, ditopang oleh optimalisasi neraca, percepatan pertumbuhan, serta restrukturisasi yang masih berlangsung. DEWA juga mulai mengurangi ketergantungan pada segmen subkontraktor dan bersiap mengeksekusi proyek secara mandiri, salah satunya melalui rencana pengambilalihan pengerjaan tambang Bengalon milik Kaltim Prima Coal (KPC).

Sementara itu, Senior Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai saham ENRG terdorong oleh kinerja pendapatan yang tetap solid. EBITDA ENRG tercatat naik 26% secara tahunan hingga periode yang berakhir 30 September 2025, mencerminkan efisiensi operasional yang kuat. Produksi minyak dan gas dinilai masih mendukung kinerja perusahaan, di tengah keberlanjutan lintasan investasi.

Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham ENRG dengan target harga Rp 1.720 per lembar. “Namun, ada risiko penurunan meliputi transisi energi, ketidakpastian regulasi, fluktuasi harga komoditas, persaingan, dan kemajuan teknologi,” ujar Sukarno.

Mureks