Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (5/1/2026). Mata uang Garuda tertekan hingga menyentuh level Rp16.735 per dolar AS, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global pasca-serangan militer AS ke Venezuela.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah 0,12% pada penutupan perdagangan sore ini. Pelemahan ini membalikkan posisi rupiah yang sempat dibuka menguat 0,09% di level Rp16.700 per dolar AS pada pembukaan pagi. Sepanjang hari, pergerakan rupiah terpantau berada dalam rentang Rp16.700 hingga Rp16.760 per dolar AS.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pelemahan rupiah sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat menguat 0,28% ke level 98,695. Penguatan dolar AS ini mencerminkan peningkatan selera investor terhadap aset safe haven, menyusul eskalasi geopolitik yang memanas. Ketegangan ini dipicu oleh serangan militer AS ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Mureks mencatat bahwa ketidakpastian geopolitik ini mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Di sisi lain, pelaku pasar global juga mulai mengalihkan fokus pada serangkaian data ekonomi penting AS yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Rilis data tersebut dimulai dari data ISM manufaktur pada awal pekan, dan akan berpuncak pada publikasi laporan tenaga kerja non-farm payrolls (NFP) di akhir pekan. Hasil data ini dipandang krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Saat ini, pasar masih memproyeksikan adanya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun ini, berdasarkan proyeksi pasar berjangka.
Selain itu, investor juga menanti pengumuman Presiden Donald Trump terkait kandidat Ketua The Fed yang baru, menggantikan Jerome Powell yang akan mengakhiri masa jabatannya pada Mei mendatang. Trump sebelumnya menyatakan akan memilih sosok yang lebih mendukung suku bunga rendah, sehingga keputusan ini dipandang pasar sebagai salah satu faktor risiko kebijakan yang perlu dicermati.
Dari dalam negeri, rilis data inflasi terbaru turut menjadi perhatian pelaku pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2025 sebesar 0,64% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,92% secara tahunan (year-on-year/yoy), yang sekaligus menjadi data inflasi untuk keseluruhan tahun 2025. BPS juga mencatat bahwa kelompok makanan menjadi kontributor utama inflasi sepanjang 2025, dengan tingkat inflasi 1,66% dan andil sebesar 0,48%. Meskipun masih berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, perkembangan inflasi ini dinilai pasar dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan ruang stabilisasi nilai tukar ke depan.






