Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung merawat 10 pasien terkonfirmasi influenza A (H3N2) subclade K, atau yang dikenal masyarakat sebagai “super flu”, per Jumat (9/1). Dari jumlah tersebut, dua pasien dilaporkan dalam kondisi berat dan memerlukan perawatan intensif di ruang khusus.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS, dokter Iwan Abdul Rachman, pada Kamis (8/1) menyatakan, “Sampai hingga saat ini dilaporkan sudah 10 orang pasien dirawat di rumah sakit kita ini.” Ia menambahkan, delapan pasien lainnya berada dalam kondisi ringan hingga sedang.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Iwan menjelaskan, penularan penyakit ini terjadi melalui droplet infection, yakni partikel cairan sangat kecil yang keluar dari mulut atau hidung saat seseorang batuk, bersin, atau bahkan berbicara. “Bila dikaitkan dengan kepadatan penduduk tentu risiko semakin tinggi di area yang padat penduduknya,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik, menekankan bahwa “super flu” bukanlah istilah medis baku. “Pertama, super flu ini bukan suatu istilah yang lazim di kedokteran, bukan istilah yang baku di kedokteran tapi lebih merujuk ke suatu penyakit influenza yang sifatnya musiman seasonal, diakibatkan oleh perubahan cuaca, dan lainnya, seperti itu,” kata Iwan. Ia melanjutkan, gejala yang dirasakan mungkin lebih berat dan penyebarannya lebih cepat karena bisa merupakan kombinasi dari beberapa jenis virus.
Untuk pencegahan, Iwan menyarankan perilaku hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan, dan menggunakan masker bila bergejala. “Yang paling penting untuk pencegahannya preventif menggunakan masker, tapi itu lebih tepat digunakan oleh orang yang bergejala. Tidak perlu panik, tidak harus pakai masker ke mana-mana tapi kesadaran dari masing-masing individu,” tegasnya.
Perbedaan Flu Biasa dan Super Flu
Praktisi Kesehatan, Dr. Ngabila Salama, menjelaskan perbedaan gejala antara flu biasa dan gambaran yang disebut “super flu” dalam persepsi masyarakat. “Flu biasa ditandai dengan pilek, bersin, batuk ringan, sakit tenggorokan, demam ringan atau bahkan tanpa demam, serta badan yang terasa agak pegal,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan konsep “super flu” secara awam: “Seluruh badan ‘kena’, jauh lebih melumpuhkan.” Gejala “super flu” meliputi demam tinggi mendadak dengan suhu di atas 38,5 derajat Celsius, nyeri otot berat hingga badan terasa remuk, sakit kepala hebat, batuk kering yang kuat, serta lemas ekstrem hingga penderitanya sulit bangun dari tempat tidur. “Super Flu juga bisa disertai mual, muntah, atau diare,” ujar Ngabila.
Dari sisi durasi, “super flu” cenderung berlangsung lebih lama, yakni sekitar 7 hingga 14 hari. Kondisi ini juga berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru dan sinusitis berat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta.
Menkes: Tidak Mematikan Seperti COVID-19
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pandangan resmi pemerintah tentang risiko “super flu”. “Superflu ini sebenarnya influenza tipe A. Sudah ada dari dulu. Virusnya namanya H3N2. Cuma variannya varian K,” jelas Budi.
Ia membandingkan varian flu tersebut dengan varian pada virus COVID-19 yang sempat merebak sebelumnya. “Ini kan ada Omicron, Delta, inget kan dulu kan? Ini sama, ini virus. Virusnya H3N2. Kalau dulu kan virusnya COVID-19. Ini virusnya H3N2. Variannya varian K,” ujarnya.
Budi juga menekankan bahwa influenza H3N2 merupakan virus lama yang terus beredar dan tidak mematikan seperti COVID-19. “Yang penting buat teman-teman, ya jaga kesehatan, imunitasnya, istirahatnya cukup. Sehingga kalau kena, sama seperti flu biasa, bisa kembali lagi,” katanya. “Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak, ini adalah flu biasa. Influenza H3N2.”
Menurut pantauan Mureks, imbauan untuk menjaga kebersihan dan imunitas menjadi kunci utama dalam menghadapi penyebaran virus ini, sejalan dengan pernyataan para ahli dan pemerintah.






