Nasional

Resolusi Tahun Baru 2026: Membangun Target atau Menikmati Alur Hidup? Simak Kisah Mereka

Jumat, 02 Januari 2026, menjadi momentum bagi banyak individu untuk merefleksikan perjalanan hidup dan merancang langkah ke depan. Seperti tradisi tahunan, awal tahun kerap dijadikan titik tolak untuk menata ulang prioritas, menyusun target baru, atau justru memilih menjalani hari-hari dengan lebih fleksibel.

Menyusun Target: Panduan Menuju Pencapaian

Bagi sebagian orang, menyusun target di awal tahun adalah sebuah keharusan. Mereka percaya bahwa tujuan yang jelas akan memberikan arah dan motivasi sepanjang tahun. Menurut laman Oxford Learning, penetapan target untuk setahun ke depan dapat memberikan dampak signifikan pada pencapaian, baik dalam aspek pendidikan, pengembangan keterampilan, maupun karier.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Rizky Pratama (27), seorang warga Jakarta Timur, mengakui dirinya termasuk tim yang gemar membuat target setiap awal tahun. Namun, target yang ia susun tidak terlalu rumit atau mendetail, melainkan berupa garis besar seperti konsisten dalam bekerja, menabung, dan menjaga kesehatan. Pengalaman hidup yang dinamis dan tidak selalu berjalan sesuai rencana menjadi alasan Rizky tetap berpegang pada target.

“Harapannya simpel aja sih, pengin lebih tenang ngejalanin hari-hari. Bisa lebih menghargai diri sendiri, kerja tetap jalan, tapi nggak lupa istirahat. Kalau target-target kecil bisa tercapai pelan-pelan, itu udah cukup buat gue,” kata Rizky kepada Mureks.

Senada dengan Rizky, Nadya Putri (24) juga rutin membuat target setiap pergantian tahun. Nadya biasanya mengurutkan targetnya dari yang paling kecil hingga yang besar, meliputi menabung minimal Rp 1 juta per bulan, rutin berolahraga tiga kali seminggu, hingga mengikuti satu kelas daring untuk meningkatkan keterampilan kerja.

Menurut Nadya, memiliki target yang jelas membantunya tetap termotivasi dan terhindar dari rasa malas. “Kalau targetnya jelas, walaupun simpel, aku jadi lebih ke-track. Misalnya target olahraga, aku jadi lebih sadar kalau seminggu belum gerak sama sekali,” jelasnya.

Prinsip “Let It Flow”: Fleksibilitas di Tengah Ketidakpastian

Berbeda dengan Rizky dan Nadya, Bima Aji (31) justru lebih memilih menjalani hidup dengan prinsip “mengalir saja” atau let it flow. Meski demikian, bukan berarti Bima abai terhadap kehidupannya. Ia tetap memiliki fokus, terutama terkait finansial dan kebutuhan diri sendiri.

Bima mengaku lebih rajin menabung dana darurat, mengurangi jam lembur, dan menyempatkan diri berlibur minimal setahun sekali. Ia juga berupaya tetap aktif berolahraga ringan seperti jogging di akhir pekan agar tidak mudah mengalami burnout di pertengahan tahun. Alur kerja di kantor yang sering berubah-ubah menjadi salah satu alasan Bima memilih prinsip fleksibilitas ini.

“Jadi gue nggak mau terlalu kaku sama target. Yang penting ada arah umum, tapi tetap fleksibel kalau ada perubahan kondisi,” tutur Bima.

Mureks mencatat bahwa baik pendekatan menyusun target maupun prinsip “mengalir saja” memiliki kelebihan masing-masing, tergantung pada preferensi dan kondisi individu. Keduanya sama-sama bertujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan seimbang di tahun yang baru.

Mureks