Sabtu, 03 Januari 2026, linimasa media sosial kembali diramaikan dengan fenomena tahunan yang akrab: resolusi untuk 2026. Berbagai unggahan estetik berisi target hidup, video refleksi dengan iringan musik sendu, hingga thread panjang tentang rencana menjadi pribadi yang lebih baik, membanjiri platform digital. Fenomena ini menunjukkan bagaimana resolusi telah bertransformasi dari rutinitas pribadi menjadi ritual sosial yang sulit dihindari.
Dahulu, resolusi kerap dicatat secara privat dalam buku harian. Kini, harapan-harapan tersebut terekspos luas di ruang publik, memanfaatkan platform seperti TikTok, Instagram Reels, hingga X sebagai panggung utama. Resolusi tidak lagi sekadar refleksi diri, melainkan juga menjadi medium berbagi yang dinanti, dikomentari, dan dibagikan.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Mengapa Konten Resolusi Selalu Menarik Perhatian?
Pertanyaan mendasar muncul: apa yang membuat konten resolusi selalu berhasil menarik perhatian publik? Menurut Gibran Abiel Rizky Nur Salim, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro, fenomena ini dapat dianalisis melalui kacamata psikologi media.
Mengacu pada Uses and Gratifications Theory, keterlibatan audiens tidak hanya sekadar mengikuti tren. Audiens modern bersifat aktif, secara sadar memilih konten yang ingin mereka konsumsi dan bagikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Konten resolusi, dalam konteks ini, bukan hanya menyajikan informasi, tetapi juga menyentuh aspek emosi, pencarian jati diri, kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain, bahkan sekadar hiburan.
Pada dasarnya, resolusi di media sosial menjadi wadah untuk mengekspresikan harapan, kegelisahan, sekaligus membangun citra diri yang ingin ditampilkan ke publik.
Ketika individu membagikan target hidup seperti menjadi lebih sehat, produktif, atau tenang, mereka tidak hanya menyajikan daftar keinginan. Di baliknya, tersirat narasi tentang identitas diri saat ini dan aspirasi untuk masa depan. Pemilihan kata yang cermat, visual yang konsisten, dan narasi yang kuat bukan semata-mata estetika, melainkan bagian dari upaya membangun citra diri di ranah digital. Resolusi pun bertransformasi menjadi semacam etalase nilai dan prioritas hidup.
Interaksi yang timbul, seperti like, komentar, dan pesan dukungan, turut memperkuat makna tersebut. Ucapan sederhana seperti “semangat ya 2026-nya” dapat memberikan validasi dan rasa kebersamaan. Bahkan bagi pembaca pasif, banyak cerita resolusi terasa relevan karena berangkat dari pengalaman universal, seperti kegagalan di tahun sebelumnya, kelelahan hidup, dan harapan untuk memulai kembali. Ini menciptakan rasa solidaritas, seolah semua berada di titik awal yang sama.
Resolusi sebagai Katarsis Emosional
Selain itu, resolusi juga berfungsi sebagai sarana untuk meluapkan emosi. Pergantian tahun seringkali membawa serta beban dari tahun sebelumnya, seperti kekecewaan, kehilangan, atau rencana yang belum terwujud. Konten refleksi membantu banyak orang menata ulang perasaan dan membuka ruang untuk harapan baru. Dalam konteks ini, media sosial bukan hanya platform berbagi informasi, melainkan juga ruang transisi emosional menuju fase kehidupan yang baru.
Jebakan Perubahan di Permukaan
Namun, tim redaksi Mureks mencatat bahwa ada sisi lain yang perlu diwaspadai. Ketika resolusi bertransformasi menjadi konten, muncul risiko perubahan yang hanya berhenti di permukaan. Unggahan selesai, respons positif berdatangan, dan rasa puas sesaat mungkin muncul. Akan tetapi, langkah nyata menuju perubahan seringkali tidak pernah benar-benar dimulai.
Kepuasan instan yang didapatkan dari interaksi di media sosial dapat menutupi realitas bahwa perubahan sejati memerlukan proses panjang dan konsisten, yang tidak selalu terekspos di layar digital.
Fenomena resolusi menjelang 2026 ini secara gamblang menunjukkan bagaimana media sosial telah mengubah refleksi pribadi menjadi pengalaman kolektif. Pengguna secara sadar memanfaatkan platform ini untuk memenuhi kebutuhan identitas, emosi, dan relasi sosial mereka. Tantangan utamanya bukan pada penghentian pembuatan resolusi, melainkan pada bagaimana memastikan media sosial tetap berfungsi sebagai alat pendukung perubahan, bukan justru menggantikannya.






