Rentetan suara ledakan keras mengguncang wilayah Caracas, ibu kota Venezuela, pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat. Suara-suara ledakan tersebut juga disertai dengan bunyi menyerupai pesawat terbang yang melintas di udara, menambah suasana mencekam di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.
Jurnalis AFP yang berada di Caracas melaporkan bahwa suara ledakan masih terdengar sekitar pukul 02.15 dini hari waktu setempat, meskipun lokasi dan sumber pasti suara tersebut belum dapat dipastikan. Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Venezuela belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Laporan dari Al Arabiya menyebutkan bahwa setidaknya tujuh ledakan terdengar di berbagai area Caracas pada Sabtu dini hari. Insiden ini sontak membuat warga di berbagai wilayah berhamburan ke jalanan. Dari kejauhan, kepulan asap terlihat di udara, khususnya di area selatan Caracas yang berdekatan dengan pangkalan militer utama. Pemadaman listrik juga dilaporkan terjadi di wilayah tersebut.
Rentetan ledakan ini terjadi di tengah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang telah mengerahkan pasukan Angkatan Laut AS ke kawasan Karibia. Trump sebelumnya membahas kemungkinan serangan darat terhadap Venezuela, memperkeruh hubungan kedua negara.
Pada Senin (29/12) waktu setempat, Trump mengumumkan bahwa AS telah menyerang dan menghancurkan area dermaga yang diduga menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal penyelundup narkoba asal Venezuela. Saat itu, Trump tidak merinci apakah serangan tersebut merupakan operasi militer AS atau badan intelijen pusat AS (CIA), hanya menyatakan serangan terjadi di “sepanjang pantai”. Serangan ini berpotensi menjadi serangan darat pertama AS yang diketahui di wilayah Venezuela.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro belum mengonfirmasi atau membantah serangan pada Senin (29/12) tersebut. Namun, pada Kamis (1/1), Maduro menyatakan keterbukaannya untuk bekerja sama dengan AS setelah berminggu-minggu menghadapi tekanan militer yang intens.
Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan mengklaim sedang menindak tegas perdagangan narkoba di kawasan Karibia. Maduro membantah keras tuduhan tersebut dan balik menuduh AS berupaya menggulingkan dirinya demi menguasai cadangan minyak Venezuela, yang merupakan yang terbesar di dunia.
Washington terus meningkatkan tekanan terhadap Caracas dengan secara tidak resmi menutup wilayah udara Venezuela, memberlakukan lebih banyak sanksi, dan memerintahkan penyitaan kapal tanker yang memuat minyak Venezuela.
Selama berminggu-minggu, Trump telah mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di kawasan tersebut, menyatakan serangan akan dimulai “segera”. Serangan pada Senin (29/12) menjadi contoh pertama dari ancaman tersebut.
Pasukan AS juga telah melancarkan puluhan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak September lalu. Namun, pemerintahan Trump belum memberikan bukti konkret untuk menunjukkan keterlibatan kapal-kapal tersebut dalam perdagangan narkoba, yang memicu perdebatan mengenai legalitas operasi tersebut. Mureks mencatat bahwa menurut informasi yang dirilis militer AS sejauh ini, operasi maritim yang mematikan ini telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam setidaknya 30 serangan.






