Internasional

Trump Panggil Eksekutif Raksasa Minyak, Siap ‘Sulap’ Produksi Venezuela Pasca-Penangkapan Maduro

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak raksasa di Gedung Putih pada akhir pekan ini. Pertemuan yang kemungkinan besar berlangsung pada hari Jumat, 10 Januari 2026, tersebut bertujuan untuk membahas strategi menghidupkan kembali sektor minyak Venezuela yang kini hancur lebur. Langkah ini diambil setelah pasukan khusus Amerika Serikat menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, dalam sebuah penggerebekan di ibu kota Caracas pada Sabtu, 4 Januari 2026.

Bagi Trump, meningkatkan produksi minyak mentah dari Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, telah menjadi prioritas utama pemerintahannya saat ini. Meskipun infrastruktur energi di Venezuela telah terbengkalai selama bertahun-tahun, pemerintahan Trump optimistis dapat memacu produksi dalam waktu singkat. Trump bahkan mengisyaratkan kesediaan pemerintah AS untuk memberikan dukungan finansial demi menarik kembali minat raksasa minyak internasional.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

“Sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan minyak akan membelanjakannya, kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kami atau melalui pendapatan,” ungkap Trump dalam wawancaranya bersama NBC News, dikutip Rabu (7/1/2026).

Ia meyakini bahwa dengan teknologi dan peralatan baru, industri minyak AS mampu memperluas operasi di Venezuela dalam kurun waktu kurang dari 18 bulan. Selain itu, Trump menegaskan bahwa peningkatan produksi ini memiliki dampak langsung bagi ekonomi domestik Amerika. Saat berbicara di hadapan anggota DPR dari Partai Republik, Trump menyatakan bahwa peningkatan pasokan dari Venezuela akan membantu menekan inflasi energi.

“Kita punya banyak minyak untuk dibor, yang akan menurunkan harga minyak jauh lebih rendah lagi,” tegasnya.

Menteri Dalam Negeri AS, Doug Burgum, menambahkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan opsi untuk mencabut sanksi yang selama ini menghalangi Venezuela mengakses peralatan ladang minyak krusial. Burgum menilai intervensi teknologi akan memberikan dampak instan bagi kapasitas produksi negara tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network, Burgum memberikan gambaran optimis mengenai potensi kerja sama ini.

“Beberapa hal ini dapat dilakukan dengan sangat cepat. Peluang di sisi bisnis di sini benar-benar sangat besar,” kata Burgum menekankan potensi keuntungan ekonomi bagi perusahaan-perusahaan migas AS.

Saat ini, Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak utama AS yang masih beroperasi di ladang minyak Venezuela. Sementara itu, raksasa lain seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips, yang asetnya pernah dinasionalisasi oleh mantan Presiden Hugo Chavez dua dekade silam, belum memberikan komentar resmi mengenai kesediaan mereka untuk kembali ke sana.

Keraguan Analis dan Tantangan Produksi

Di balik optimisme pemerintah, para analis energi dan pelaku industri menyatakan keraguan mereka. Mereka menyoroti fakta bahwa produksi Venezuela telah anjlok dari 3 juta barel per hari (bpd) dua dekade lalu menjadi di bawah 1 juta bpd saat ini. Kerusakan infrastruktur yang masif dinilai memerlukan waktu bertahun-tahun dan investasi miliaran dolar untuk diperbaiki.

Daan Struyven, salah satu pimpinan riset komoditas global di Goldman Sachs, memperingatkan bahwa kenaikan produksi yang signifikan tidak akan terjadi dalam semalam. Menurut Struyven, Venezuela kemungkinan besar baru bisa mencapai angka 1,5 juta hingga 2 juta bpd pada akhir dekade ini, itu pun jika mendapat dukungan institusional dan finansial yang sangat besar dari pemerintah Amerika Serikat. Mureks mencatat bahwa tantangan lainnya adalah karakteristik minyak Venezuela yang sangat kental dan berat, sehingga membutuhkan biaya ekstra untuk ekstraksi dan pengolahan di tengah harga minyak dunia yang saat ini stabil di kisaran 60 dolar per barel.

“Sulit membayangkan peningkatan melampaui 300.000 hingga 400.000 barel per hari dalam setahun ke depan, mengingat kondisi infrastruktur yang sangat terdegradasi,” jelas Struyven dalam konferensi energi di Miami.

Kesepakatan Pasokan Minyak ke AS

Pada perkembangan lain, Washington dan Caracas mencapai kesepakatan yang memungkinkan ekspor minyak mentah Venezuela senilai hingga US$2 miliar atau sekitar Rp33,5 triliun ke Amerika Serikat. Kesepakatan ini tidak hanya berpotensi mengalihkan pasokan minyak dari China, tetapi juga memberi jalan keluar bagi Caracas untuk menghindari pemangkasan produksi yang lebih dalam di tengah blokade ekspor.

Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat, menyebutnya sebagai hasil negosiasi utama yang membuka kembali aliran minyak Venezuela ke pasar AS. Menurut Trump, Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang terkena sanksi untuk dikirim langsung ke pelabuhan-pelabuhan di Amerika Serikat.

“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uangnya akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya. Kesepakatan ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah Venezuela mulai merespons tuntutan Trump agar membuka akses penuh bagi perusahaan-perusahaan minyak AS.

Mureks