Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Kolombia yang sempat memanas hingga di ambang peperangan kini menunjukkan titik terang. Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang dikenal sebagai kritikus vokal kebijakan Donald Trump di Amerika Latin, secara mengejutkan menerima undangan resmi untuk berkunjung ke Gedung Putih.
Perkembangan ini menandai perubahan arah 180 derajat setelah beberapa pekan terakhir terjadi perang kata-kata yang sangat berbahaya antara kedua pemimpin. Petro sebelumnya mengecam keras intervensi AS di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro, sebagai “pelanggaran kedaulatan”. Ia bahkan membandingkan tindakan tersebut dengan pengeboman era Nazi di Guernica.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Sebagai balasan, Donald Trump melabeli Petro sebagai “pemimpin narkoba internasional” tanpa bukti kuat. Trump juga mencabut visa para pejabat Kolombia dan secara terbuka mengancam akan meluncurkan operasi militer di tanah Kolombia. Situasi ini menjadi ironis mengingat Kolombia selama tiga dekade terakhir merupakan sekutu terkuat Washington di kawasan tersebut dalam memerangi kartel kokain.
Pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat, ribuan warga Kolombia turun ke jalan-jalan di Bogota atas seruan Petro untuk “mempertahankan kedaulatan nasional”. Massa meneriakkan slogan anti-Trump dan menanti pidato keras yang diperkirakan akan memutus hubungan diplomatik kedua negara.
Namun, kejutan terjadi saat Petro naik ke podium. Ia mengungkapkan bahwa sesaat sebelum berpidato, ia melakukan panggilan telepon pribadi dengan Trump yang mengubah arah sejarah kedua negara. “Saya sudah menyiapkan satu pidato yang sangat keras untuk hari ini, tetapi saya harus menggantinya. Saya meminta [Trump] untuk membangun kembali komunikasi langsung antara pemerintah kita. Jika tidak ada dialog, maka akan ada perang,” ujar Petro di hadapan massa di Bogota.
Strategi Petro ini tampaknya berhasil meredam emosi Trump. Melalui pernyataan di media sosial, Trump menyebut percakapan tersebut sebagai “kehormatan besar” dan memuji nada bicara Petro yang kini dianggap lebih bersahabat. “Saya menghargai panggilan dan nada bicaranya, dan saya menantikan pertemuan dengannya dalam waktu dekat,” tulis Trump mengenai undangan kunjungan ke Gedung Putih bagi Petro.
Menurut Mureks, para analis menilai bahwa kedua pemimpin menyadari mereka saling membutuhkan meskipun memiliki perbedaan ideologi yang tajam. Bagi Kolombia, AS adalah donor utama dengan bantuan militer mencapai US$ 14 miliar atau sekitar Rp 218 triliun selama dua dekade terakhir untuk melawan gerilya sayap kiri dan penyelundup narkoba.
Sementara itu, bagi AS, Kolombia adalah “batu penjuru” strategi antinarkotika di luar negeri. Tanpa kerja sama intelijen dari Bogota, upaya AS menyita narkoba di Karibia akan lumpuh. Michael Shifter, pakar Amerika Latin dari Inter-American Dialogue, menyebutkan bahwa sektor swasta dan kontak diplomatik di Washington telah melobi Trump agar tidak menghukum negara Kolombia hanya karena ketidaksukaannya pada Petro.
Meskipun ketegangan mereda, jalan menuju normalisasi penuh masih panjang. Menteri Luar Negeri Kolombia, Rosa Villavicencio, yang sebelumnya telah menyiapkan tentara untuk menghadapi agresi AS, kini harus mengurus perjalanan ke Washington untuk mengatur kunjungan Petro.






