Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) secara resmi memulai implementasi registrasi kartu SIM berbasis biometrik pengenalan wajah atau face recognition pada Kamis, 1 Januari 2026. Kebijakan ini diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan digital yang kerap memanfaatkan nomor seluler sebagai celah masuk.
Pada tahap awal, registrasi menggunakan pengenalan wajah ini bersifat sukarela dan masih dalam fase uji coba. Implementasi penuh sebagai kebijakan wajib dijadwalkan akan berlaku mulai 1 Juli 2026. Menurut Kemkomdigi, langkah ini merupakan upaya krusial untuk membersihkan “nomor siluman” dan meningkatkan keamanan data pengguna.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Namun, di tengah dimulainya era baru registrasi ini, ancaman siber dari para peretas atau hacker justru semakin meningkat. Perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat adanya lonjakan signifikan dalam aktivitas phishing. Pada kuartal kedua 2025, Kaspersky telah mendeteksi dan memblokir lebih dari 142 juta klik tautan phishing, angka ini meningkat 3,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Mureks mencatat bahwa tren serangan phishing kini mengalami pergeseran signifikan, didorong oleh teknik penipuan canggih berbasis kecerdasan buatan (AI) dan metode penghindaran yang inovatif. Para penjahat siber kini mengeksploitasi teknologi seperti deepfake dan kloning suara, serta memanfaatkan platform tepercaya seperti Telegram dan Google Translate untuk mencuri data sensitif.
Fokus serangan telah bergeser dari sekadar mencuri kata sandi ke data yang tidak dapat diubah, termasuk biometrik pengenalan wajah. Hacker menargetkan data ini melalui situs-situs palsu yang meminta akses kamera ponsel pintar dengan dalih verifikasi akun. Tujuannya adalah menangkap pengenal wajah atau biometrik lainnya yang kemudian dapat digunakan untuk akses tidak sah ke akun-akun sensitif atau dijual di dark web.
Olga Altukhova, pakar keamanan Kaspersky, memberikan peringatan keras. “Konvergensi AI dan taktik mengelak telah mengubah phishing menjadi tiruan komunikasi sah yang hampir alami, menantang bahkan bagi pengguna yang paling waspada sekali pun,” ujarnya.
Altukhova menambahkan, “Para hacker tidak lagi puas dengan mencuri kata sandi — mereka menargetkan data biometrik pengenalan wajah (face recognition) — yang berpotensi menciptakan konsekuensi jangka panjang yang menghancurkan.” Oleh karena itu, pengguna diminta untuk semakin skeptis dan proaktif dalam menjaga keamanan data pribadi mereka agar tidak menjadi korban.






