Tahun baru selalu menjadi momentum refleksi bagi banyak orang, tak terkecuali Dosen Program Pascasarjana, Asep Abdurrohman. Menurutnya, pergantian tahun memberikan spirit baru bagi manusia untuk menata ulang pengelolaan waktu. Ia menekankan bahwa setiap waktu yang digunakan harus menghasilkan output yang baik, jika tidak, kerugian akan menanti.
Asep Abdurrohman menguraikan bahwa bumi berputar pada porosnya, sementara manusia berputar mengisi waktu yang telah ditetapkan. Setiap hari, aktivitas manusia tak lepas dari waktu, dari pagi hingga pagi kembali, dari senja hingga fajar. Waktu terus bergulir, berganti dari jam ke jam, pekan ke pekan, bulan ke bulan, hingga tiba pergantian tahun.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Ia menegaskan bahwa waktu itu sendiri tidak akan berubah; ia selamanya bergerak secara konstan. Yang berubah adalah “pengisi waktu” itu sendiri, yaitu manusia. Manusia terus didampingi oleh waktu sepanjang hidupnya, hingga tiba saatnya waktu tidak lagi menemani mereka di alam dunia.
Dalam konteks manusia sebagai pengisi waktu, Asep Abdurrohman memandang pentingnya menata ulang cara menyalakan waktu dengan efektif. Setiap individu perlu mengatur waktu sebaik mungkin dan tidak membuangnya sia-sia. Ia memberikan contoh, berjalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas adalah pertanda membuang waktu, sementara duduk santai sambil berdiskusi dengan sahabat adalah bentuk pengelolaan waktu yang baik.
Diskusi ringan yang diiringi suasana santai merupakan upaya mengefektifkan waktu. Menurut Asep, manusia beriman yang bersanding dengan agama yang benar, dengan sendirinya harus memiliki komitmen terhadap waktu. Setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki jatah waktu yang sama, yakni 24 jam sehari.
Manajemen Waktu dalam Perspektif Agama
Waktu 24 jam tersebut, menurut Asep, perlu diatur sebaik mungkin, mulai dari bangun subuh hingga menjelang tidur malam. Dalam kaidah agama, manusia telah diberikan waktu sebanyak 12 bulan, di mana empat bulan di antaranya mendapatkan perhatian khusus sebagai slot waktu untuk merenung dan mengevaluasi diri.
Dari sini, manusia mendapatkan inspirasi bahwa penataan waktu sangatlah penting. Ia menganalogikan dengan kehidupan sekolah yang memiliki berbagai program evaluasi: harian, mingguan, bulanan, semesteran, hingga tahunan. Dalam pandangan yang lebih kritis, 12 bulan dapat dipetakan dengan meminjam istilah sekolah, yakni program semester (promes) dan program tahunan (prota), sebagai bingkai waktu global.
Asep Abdurrohman menekankan perlunya membingkai waktu dalam konteks harian, mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan. Dalam konteks harian, manusia beriman telah diberikan contoh melalui perintah salat lima waktu. Ini mengisyaratkan bahwa manusia beriman harus mampu mengatur waktu dengan baik.
Bangun subuh, misalnya, tidak boleh melewati waktu yang telah ditentukan. Idealnya, seseorang mesti bangun sebelum subuh atau setidaknya beberapa saat sebelumnya. Ini berarti “alarm dalam tubuh” mesti disetel, tidak hanya mengandalkan alarm ponsel.
Cara menyetel alarm tubuh, setelah berdoa kepada Allah, adalah dengan mengatakan kepada diri sendiri, “kamu harus bangun jam 04.00 dini hari.” Ucapan ini, menurut Asep, harus terus didengungkan agar masuk dan bersemayam dalam batin, lama-lama akan memberi sugesti kepada tubuh. Akhirnya, tubuh akan terbiasa dan mengenal perintah bangun dini hari melalui alarm alami dalam diri.
Setelah bangun, berikan jeda waktu sesaat sebelum bersyukur melalui untaian doa bangun tidur. Biarkan tubuh “loading” dulu menuju kesadaran penuh, seperti komputer yang baru dinyalakan. Setelah proses “loading” selesai, barulah tubuh siap menerima perintah berikutnya.
Di sinilah jiwa manusia diisi dengan kalimat fitrah dalam bentuk doa. Doa bangun tidur, yang merupakan ucapan syukur, menjadi nutrisi terbaik untuk mengawali kesadaran jiwa. Ucapan “alhamdulillah” adalah hal pertama yang dimasukkan ke dalam jiwa setelah tidur.
Ini adalah pendidikan untuk mengisi waktu dengan aktivitas terbaik, pembuka waktu dengan kalimat yang membawa berkah. Ucapan berkah yang mengandung nutrisi ini, secara tidak sadar, mengingatkan manusia bahwa hidup harus didesain sesuai kehendak Pencipta waktu. Buktinya, setiap mata terbuka dari tidur, manusia mengucapkan segala puji bagi Allah.
Manusia tidak memiliki daya dan upaya; di dalamnya sudah diatur oleh Sang Pencipta bahwa manusia tidak akan bisa lepas dari kebutuhan terhadap Tuhan. Hal ini senada dengan firman-Nya, bahwa semua manusia ketika di alam rahim sudah bersaksi kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Mureks mencatat bahwa pandangan ini menggarisbawahi integrasi spiritualitas dalam setiap aspek kehidupan.
*Bersambung






