Nicolas Maduro Guerra, putra Presiden Venezuela Nicolas Maduro, menyerukan warga negaranya untuk turun ke jalan dan menunjukkan solidaritas setelah ayahnya ditangkap oleh Amerika Serikat (AS) atas tuduhan narkoterorisme. Seruan menantang ini disampaikan Guerra melalui pesan audio yang dibagikan di media sosial pada Minggu (4/1) waktu setempat.
“Kalian akan melihat kami di jalanan, kalian akan melihat kami di sisi rakyat, kalian akan melihat kami mengibarkan bendera martabat,” kata Guerra, yang juga merupakan anggota Kongres Venezuela, dalam pesannya. Keaslian rekaman audio tersebut telah dikonfirmasi oleh sejumlah ajudannya kepada AFP.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Seruan Guerra ini muncul sehari setelah operasi militer AS menggempur Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya dilaporkan diterbangkan keluar dari ibu kota Caracas dan telah dibawa ke New York oleh pasukan militer AS. Mureks mencatat bahwa penangkapan ini memicu gelombang protes di dalam negeri.
“Mereka ingin kita terlihat lemah, tetapi kita tidak akan menunjukkan kelemahan,” tegas Guerra. Ia merupakan salah satu dari enam orang, termasuk ayah dan ibu tirinya, yang dituduh terlibat dalam praktik “narkoterorisme” oleh otoritas AS.
Guerra adalah satu-satunya putra kandung Maduro dari pernikahan pertamanya dengan Adriana Guerra Angula. Tiga anak lainnya merupakan anak dari Cilia Flores, istri kedua Maduro, yang juga ikut ditangkap AS. Operasi penangkapan pemimpin Venezuela dari tempat persembunyiannya di Caracas pada akhir pekan lalu telah memicu spekulasi mengenai adanya pengkhianatan dari lingkaran dalam.
Menggemakan spekulasi tersebut, Guerra menyatakan, “Sejarah akan membuktikan siapa pengkhianatnya, sejarah akan mengungkapkannya. Kita akan lihat.” Ia juga menyatakan keyakinan bahwa “chavismo”, gerakan sosialis anti-imperialis yang didirikan oleh mendiang pemimpin karismatik Hugo Chavez, akan tetap bertahan.
Ribuan Pendukung Maduro Berunjuk Rasa Tuntut Pembebasan
Sementara itu, sekitar 2.000 pendukung Nicolas Maduro berunjuk rasa di jalanan Caracas pada Minggu (4/1) waktu setempat. Mereka menuntut AS untuk segera membebaskan Presiden Maduro dan istrinya.
Unjuk rasa tersebut didampingi oleh sekelompok paramiliter dan pengendara motor pro-Maduro. Para demonstran mengibarkan bendera nasional Venezuela dan membawa poster bergambar Maduro. “Bebaskan presiden kami,” demikian bunyi salah satu poster yang dibawa demonstran.
Poster lainnya bertuliskan, “Venezuela bukan koloni siapa pun,” menyindir pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan bahwa Washington akan “mengelola” Venezuela selama periode transisi yang belum ditentukan lamanya.
Nicolas Maduro dijadwalkan hadir dalam persidangan di New York pada Senin (5/1) siang waktu setempat. Ia akan secara resmi mendengarkan dakwaan “narkoterorisme” yang dijeratkan terhadapnya.






