PT PP (Persero) Tbk menegaskan komitmennya dalam mendukung penanganan darurat dan pemulihan infrastruktur pascabencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Aceh dan Sumatra Utara. Berbagai upaya telah digulirkan, mulai dari penyaluran bantuan bahan pokok, makanan, air bersih, hingga pembukaan akses jalan, pembersihan, perbaikan fasilitas umum, serta pembangunan hunian sementara (huntara).
Langkah PTPP ini sejalan dengan inisiatif pemerintah yang terus berkoordinasi dengan BP BUMN untuk mempercepat pemulihan di wilayah Sumatra dan Aceh. Dalam setiap aksinya, PTPP memfokuskan upaya pada prinsip utama, yakni menjaga keselamatan warga serta memulihkan akses vital masyarakat secepat dan seaman mungkin.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Kolaborasi Bangun Hunian Sementara
Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah kolaborasi PTPP dengan Danantara dan BP BUMN dalam membangun hunian sementara tanggap darurat pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Dalam kerja sama ini, PTPP melaksanakan pembangunan hunian secara cepat, terukur, dan sesuai standar keselamatan konstruksi.
Aksi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Pemerintah, menyusul pertemuan Sekretaris Kabinet dengan sejumlah menteri dan direktur utama BUMN terkait pembangunan hunian bagi korban bencana di Sumatra. Rapat tersebut dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, serta Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria.
Hunian sementara ini disiapkan sebagai tempat tinggal transisi bagi warga terdampak agar dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tertata selama masa pemulihan. Danantara menargetkan sebanyak 15.000 unit hunian sementara di wilayah terdampak dalam tiga bulan ke depan, di mana PTPP terlibat dalam pembangunan 600 unit di Aceh Tamiang dan 600 unit di Aceh Utara. Mureks mencatat bahwa hunian ini dibangun dengan sistem panggung, dilengkapi fasilitas pendukung seperti MCK, tandon air, musala, tempat wudu dan cuci, jalan pedestrian, drainase, serta sistem MEP kawasan.
Di Aceh Tamiang, PTPP menggarap 94 unit hunian sementara. Sebanyak 30 unit telah rampung, sementara 64 unit lainnya ditargetkan selesai secara bertahap pada 8 Januari 2026. Proses pembangunan yang cepat dan terukur ini merupakan bentuk kolaborasi Danantara bersama BP BUMN dalam merespons kebutuhan mendesak masyarakat terdampak bencana.
Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, mengungkapkan bahwa penyediaan hunian sementara merupakan bagian penting dari strategi pemulihan pascabencana yang berkelanjutan. Ia menegaskan, “Pemulihan tidak berhenti pada perbaikan akses dan infrastruktur. Warga juga membutuhkan tempat tinggal yang aman agar bisa kembali menata aktivitas sehari hari. Melalui kolaborasi yang diinisiasi Danantara, PTPP mendukung penyediaan hunian sementara ini sebagai ruang transisi sebelum pemulihan jangka menengah dan panjang berjalan,” ujar Joko, dikutip Kamis (8/1/2026).
Perbaikan Akses Jalan dan Jembatan Vital
Selain hunian, PTPP juga melanjutkan penanganan tanggap darurat pada ruas jalan Bireuen-Takengon sepanjang 103 kilometer. Perbaikan akses terputus akibat rusaknya Jembatan Teupin Mane serta sejumlah jembatan lain, di antaranya Jembatan Enang-Enang, Weihni Rongka, Weihni Rongka II, Jamur Ujung, dan Alue Kulus, juga menjadi fokus.
Langkah ini merupakan kolaborasi dengan Kementerian PU dan merupakan kelanjutan dari upaya PTPP dalam membuka kembali akses terdampak, menjaga kelancaran distribusi logistik, serta memulihkan konektivitas antarwilayah. Untuk mendukung pekerjaan ini, PTPP mengerahkan lebih dari 46 personel lapangan yang didukung berbagai alat berat, termasuk ekskavator, buldoser, crane 60 ton, dump truck, hingga chainsaw. Seluruh sumber daya ini dikerahkan ke titik-titik paling terdampak di kedua provinsi untuk memastikan penanganan berjalan paralel dan efektif.
Pembangunan jembatan-jembatan yang telah digarap dan diselesaikan oleh PTPP merupakan bagian dari jalur darat penting yang menghubungkan Medan (Sumatra Utara) dan Banda Aceh (Aceh) melalui Bireuen. Sementara itu, pada ruas utama Aceh Tamiang-Medan, pantauan Mureks menunjukkan dua titik longsor dengan total panjang sekitar 405 meter telah ditangani melalui penggalian, pembersihan material longsor, serta pembentukan jalur sementara.
“Kami menyadari bahwa jalan dan jembatan bukan sekadar infrastruktur fisik. Ia adalah akses masyarakat untuk kembali ke rumah, bekerja, bersekolah, dan mendapatkan bantuan. Karena itu, dalam setiap tahapan penanganan, kami mengutamakan keselamatan, keberfungsian akses, dan percepatan pemulihan,” jelas Joko Raharjo.






