Internasional

António Guterres: “Ketegangan Ekonomi Bentuk Ulang Lanskap Global,” PBB Peringatkan Perlambatan 2026

(PBB) mengeluarkan sinyal waspada terhadap prospek pada tahun 2026. Dalam laporan terbarunya, PBB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan mencapai 2,7%, angka yang jauh di bawah rata-rata sebelum pandemi. Kondisi ini menandakan bahwa ekonomi global berisiko mengalami perlambatan signifikan di tengah tekanan geopolitik, perdagangan, dan beban utang yang kian meningkat.

Laporan bertajuk World Economic Situation and Prospects 2026 tersebut mengidentifikasi bahwa ketahanan ekonomi global sejauh ini masih ditopang oleh belanja konsumen yang relatif solid serta tren inflasi yang mulai mereda. Namun, fondasi pertumbuhan dinilai rapuh akibat terhambatnya investasi, ruang fiskal yang semakin sempit, dan meningkatnya ketidakpastian global.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

PBB menyoroti dampak kebijakan perdagangan yang agresif. “Peningkatan tajam tarif Amerika Serikat menciptakan gesekan perdagangan baru, meskipun tidak adanya eskalasi yang lebih luas membantu membatasi gangguan langsung terhadap perdagangan internasional,” demikian kutipan dari laporan PBB yang dirilis pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Meskipun kondisi keuangan global menunjukkan perbaikan seiring pelonggaran moneter dan sentimen konsumen yang lebih positif, PBB mengingatkan bahwa risiko besar tetap membayangi. Valuasi aset yang tinggi, khususnya di sektor-sektor yang terkait dengan kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI), dinilai berpotensi memicu kerentanan baru dalam sistem keuangan.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menegaskan bahwa kombinasi tekanan global saat ini sangat berbahaya bagi stabilitas jangka menengah. Ia mengungkapkan keprihatinannya bahwa banyak negara berkembang masih berjuang keras, sehingga kemajuan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terancam melambat. “Kombinasi ketegangan ekonomi, geopolitik, dan teknologi sedang membentuk kembali lanskap global, menghasilkan ketidakpastian ekonomi baru dan kerentanan sosial,” ujar Guterres.

Proyeksi Pertumbuhan Regional yang Timpang

Secara regional, proyeksi ekonomi dunia pada tahun 2026 menunjukkan gambaran yang timpang. Menurut catatan Mureks, Amerika Serikat (AS) diperkirakan tumbuh 2,0%, sedikit lebih tinggi dari 1,9% pada tahun 2025, didukung oleh pelonggaran moneter dan fiskal. Namun, pelemahan pasar tenaga kerja berpotensi menahan momentum pertumbuhan ini.

Sebaliknya, Uni Eropa diperkirakan melambat, dengan pertumbuhan hanya 1,3% pada 2026, turun dari 1,5% pada tahun sebelumnya. Kondisi ini disebabkan oleh dampak tarif AS yang lebih tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang menekan ekspor.

Di Asia Timur, pertumbuhan diproyeksikan turun menjadi 4,4% dari 4,9% pada 2025, seiring memudarnya dorongan ekspor awal tahun. China diperkirakan tumbuh 4,6%, sedikit lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, meskipun ditopang kebijakan yang lebih terarah. Jepang diproyeksikan tumbuh 0,9% pada 2026.

Asia Selatan masih menjadi salah satu motor pertumbuhan global, dengan proyeksi 5,6% pada 2026, meski melambat dari 5,9%. India memimpin kawasan ini dengan pertumbuhan 6,6%, ditopang konsumsi domestik yang tangguh dan investasi publik yang besar.

Sementara itu, Afrika diperkirakan tumbuh 4,0%, sedikit meningkat dari 3,9%, namun risiko utang tinggi dan guncangan iklim tetap membayangi. Amerika Latin dan Karibia diproyeksikan tumbuh 2,3%, turun tipis dari 2,4% pada 2025, di tengah permintaan konsumen yang moderat dan pemulihan investasi yang masih terbatas.

Perdagangan Melambat, Inflasi Masih Menggerus Daya Beli

PBB mencatat bahwa perdagangan global relatif tangguh pada tahun 2025 dengan pertumbuhan 3,8%, didorong oleh lonjakan pengiriman awal tahun dan kuatnya perdagangan jasa. Namun, momentum tersebut diperkirakan melemah, dengan pertumbuhan perdagangan global melambat menjadi 2,2% pada 2026.

Di sisi lain, inflasi global memang menunjukkan tren penurunan, dari 4,0% pada 2024 menjadi sekitar 3,4% pada 2025, dan diproyeksikan turun lagi ke 3,1% pada 2026. Meskipun demikian, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Junhua Li, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial, menekankan bahwa “Meskipun inflasi menurun, harga yang tinggi dan terus meningkat tetap mengikis daya beli kelompok yang paling rentan.” Menurutnya, inflasi yang lebih rendah harus diiringi dengan penguatan perlindungan belanja penting dan perbaikan struktur pasar agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh rumah tangga.

Seruan untuk Aksi Global

Menghadapi prospek ekonomi dunia yang melemah ini, PBB menyerukan koordinasi global yang lebih kuat. Negara-negara miskin, negara terkurung daratan, dan negara kepulauan kecil disebut masih terbebani utang tinggi, ruang kebijakan terbatas, serta rentan terhadap guncangan eksternal.

PBB menilai Komitmen Sevilla, hasil dari Konferensi Internasional Keempat tentang Pembiayaan Pembangunan di Spanyol, dapat menjadi cetak biru untuk memperkuat kerja sama multilateral, mereformasi arsitektur keuangan internasional, dan mendorong pembiayaan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Dengan berbagai tekanan tersebut, PBB menegaskan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi tahun krusial. Ekonomi global memang tetap tumbuh, namun dalam kecepatan yang lebih lambat dan penuh risiko, sehingga kewaspadaan dan kerja sama internasional menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas.

Mureks