Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan kinerja sektor perbankan Indonesia akan tetap solid sepanjang tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang stabil, didukung oleh kualitas kredit yang terjaga serta permodalan yang kuat.
Meski demikian, Kepala Pengawas Eksekutif Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengingatkan bahwa laju pertumbuhan kredit sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. “Untuk 2026, kinerja perbankan diproyeksikan tetap solid,” ujar Dian dalam Konferensi Pers RDK OJK pada Jumat, 9 Januari 2026.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Pertumbuhan Kredit dan DPK Stabil
Dian menjelaskan, faktor-faktor seperti permintaan pembiayaan dari dunia usaha, kondisi iklim investasi, dan proses pertumbuhan ekonomi nasional akan menjadi penentu utama. Oleh karena itu, penguatan di seluruh aspek penopang pertumbuhan ekonomi menjadi kunci untuk menjaga momentum penyaluran kredit yang berkelanjutan.
Catatan Mureks menunjukkan, penyaluran kredit perbankan per November 2025 mencapai Rp8.315 triliun, tumbuh 7,74% secara tahunan (YoY). Angka ini sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 7,36%.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 17,98% per November 2025. Disusul oleh kredit konsumsi yang tumbuh 6,67%, sementara kredit modal kerja hanya tumbuh 2,04% YoY.
Dari kategori debitur, OJK melaporkan bahwa kredit korporasi tumbuh signifikan sebesar 12% YoY. Namun, Dian mengakui bahwa kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan. “Sementara kredit UMKM masih menghadapi tantangan yang cukup berat yang dalam pengertian masih terkontraksi,” ungkapnya.
Di sisi lain, DPK juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 12,03% YoY, mencapai Rp9.899,07 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 11,48% YoY.
Kualitas Kredit Terjaga dan Permodalan Kuat
Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,21% pada November 2025, sedikit naik dari 2,19% pada November 2024. Sementara NPL net tercatat 0,86%, dibandingkan 0,75% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Rasio loan at risk (LaR) juga menunjukkan perbaikan, turun menjadi 9,22% pada November 2025 dari 9,82% pada November 2024. Dian menyebut rasio LaR ini tercatat stabil di level sebelum pandemi.
Dari sisi ketahanan perbankan, rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 26,05% per November 2025, sedikit menurun dari 26,87% pada November 2024, namun masih berada di level yang sangat kuat.






