Nasional

Prospek Ekonomi Indonesia 2026: Antara Target Pertumbuhan dan Realitas Tantangan di Masyarakat

Tahun 2025 telah berlalu, membawa beragam peristiwa suka dan duka bagi masyarakat Indonesia. Dengan harapan akan tahun 2026 yang lebih baik, banyak pihak menyoroti prospek ekonomi nasional. Ferryal Abadi, Dosen FEB Universitas Esa Unggul sekaligus Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Bekasi, menganalisis kondisi ekonomi Indonesia dan tantangan yang membayangi.

Kinerja Ekonomi 2025 dan Realitas Masyarakat

Sebagai tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo setelah melewati tahun politik 2024, kinerja ekonomi sepanjang 2025 dinilai relatif biasa-biasa saja. Mesin ekonomi belum bergerak cepat dan efektif, dengan pertumbuhan yang masih berkisar 5 persen. Angka ini, menurut Ferryal Abadi, belum cukup untuk memberikan dampak signifikan yang terasa langsung oleh masyarakat.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Meskipun terdapat indikator positif seperti kenaikan investasi dan penurunan angka pengangguran yang mencerminkan stabilitas, realitas di lapangan kerap berbeda. Masyarakat masih merasakan kesulitan mencari pekerjaan, banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), serta harga-harga yang terus meningkat tanpa diiringi kenaikan gaji yang signifikan. “Mencari kerja tetap susah. Banyak PHK. Investasi tidak mudah masuk ke Indonesia. Harga-harga terus meningkat sedangkan gaji tidak meningkat signifikan,” ujar Ferryal Abadi, menggambarkan perjuangan masyarakat.

Perbandingan dengan Era Sebelumnya

Kondisi ini membuat masyarakat kerap membandingkan dengan era kepemimpinan sebelumnya. Banyak perusahaan dan pedagang mengeluh bahwa kondisi saat ini lebih sulit dibandingkan 5-10 tahun lalu. Bahkan, ada yang menyatakan bahwa masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih baik daripada era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menteri Keuangan Purbaya, seperti yang disebutkan Ferryal Abadi, pernah menjelaskan perbedaan strategi ekonomi kedua era tersebut. Era SBY menekan pertumbuhan dari sisi konsumtif namun menekan pembangunan infrastruktur, sementara era Jokowi sebaliknya. Masyarakat, menurut Ferryal Abadi, lebih mementingkan kondisi ekonomi yang baik, apapun strateginya. Bahkan, perbandingan meluas hingga era Presiden Soeharto, di mana “apa-apa murah jaman Soeharto” menjadi sentimen umum, meskipun resesi ekonomi kala itu berujung pada lengsernya Soeharto.

Prospek Ekonomi 2026: Antara Potensi dan Hambatan

Kondisi ekonomi 2025 akan menjadi landasan bagi 2026. Dengan modal pertumbuhan sekitar 5 persen, Ferryal Abadi memprediksi pertumbuhan bisa mencapai 5,5 persen di tahun 2026, namun dengan syarat upaya keras dari pemerintah. Faktor demografi juga menjadi modal besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Namun, menurut Mureks, potensi ini tidak semudah yang dibayangkan. Ferryal Abadi mengidentifikasi dua faktor utama yang menghambat:

  • Faktor Demografi: Modal demografi yang besar tidak maksimal karena rata-rata lulusan masyarakat Indonesia masih di bawah SMA, bahkan banyak yang tidak lulus sekolah. Sementara itu, lapangan kerja mensyaratkan minimal lulusan SMA atau S1.
  • Iklim Investasi: Iklim investasi di Indonesia masih berbiaya tinggi di luar biaya resmi. Praktik pungutan liar (pungli) dan korupsi masih marak. Oligarki juga terjadi di berbagai tingkatan, dari bawah hingga atas, sehingga masyarakat di luar lingkaran tidak mendapatkan kesempatan yang sama. “Penegak hukum, militer, pejabat semua bermain,” tegas Ferryal Abadi.

Optimisme di Tahun Kedua Pemerintahan Prabowo

Ferryal Abadi meyakini bahwa jika dua faktor tersebut dapat dibenahi, Indonesia akan dengan mudah mengejar pertumbuhan ekonomi 5,5 persen, bahkan bisa melesat ke 7-8 persen. Tahun 2026 merupakan tahun kedua bagi Presiden Prabowo, dan pemerintah diharapkan belajar dari pengalaman 2025 serta tahun-tahun sebelumnya.

Optimisme untuk 2026 tidak hanya sekadar harapan kosong. “Semoga rakyat Indonesia semakin sejahtera dan mencerahkan,” tutup Ferryal Abadi, menyambut tahun baru 2026 dengan harapan akan perbaikan ekonomi yang nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Mureks