Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menjalani sidang pengadilan federal di New York, Amerika Serikat, pada Senin (5/1/2026). Dalam persidangan yang berlangsung dramatis, Maduro dengan tegas menyatakan dirinya tidak bersalah atas dakwaan kepemilikan narkoba dan senjata, seraya menuduh pasukan AS telah menculiknya sebagai “tahanan perang”.
Maduro, yang tiba di Gedung Pengadilan Daniel Patrick Manhattan dengan mengenakan kemeja gelap dipadukan pakaian tahanan oranye, didampingi istrinya, Cilia Flores, dan seorang pengacara. Pria berusia 63 tahun itu mengejutkan ruang sidang saat menyatakan, “Saya diculik sejak Sabtu, 3 Januari. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela.”
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Namun, pernyataan Maduro langsung dipotong oleh Hakim Alvin Hellerstein. “Ada waktu dan tempat tersendiri untuk membahas itu semua,” balas Hakim Hellerstein singkat, menilai pernyataan Maduro terlalu jauh dari konfirmasi identitas yang diminta.
Menurut laporan The New York Times, Maduro sempat ditanya apakah ia benar-benar Nicolas Maduro Moros. Ia menjawab dengan menambahkan penjelasan bahwa dirinya mengecam operasi militer yang menangkapnya bersama sang istri di Venezuela. “Saya orang baik. Saya masih presiden negara saya,” ujar Maduro saat menyatakan tidak bersalah atas dakwaan yang menjeratnya.
Ketegangan kembali memuncak di akhir sidang, saat seorang pria dari bangku pengunjung berteriak bahwa Maduro akan membayar kejahatan-kejahatannya. Menanggapi teriakan tersebut, Maduro menoleh dan menjawab singkat, “Saya adalah tahanan perang,” sebelum akhirnya digiring keluar sidang. Mureks mencatat bahwa insiden ini menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara Venezuela dan Amerika Serikat.






