Presiden Prabowo Subianto mengakui dirinya jarang memberikan keterangan pers terkait penanganan bencana. Hal ini didasari pemahamannya terhadap psikologi masyarakat Indonesia yang lebih memercayai bukti nyata daripada sekadar perkataan.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat koordinasi penanganan bencana bersama sejumlah menteri dan Direktur Utama BUMN di Aceh Tamiang, Aceh, pada Kamis, 1 Januari 2026. Dalam kesempatan itu, Prabowo juga memberikan nasihat kepada jajarannya agar tidak gentar menghadapi kritik dan hujatan.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah siap untuk di… tapi tidak boleh kita apa, tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat,” tegas Prabowo.
Prabowo kemudian menjelaskan prinsip kerjanya yang selalu berlandaskan bukti. Ia menegaskan tidak ambil pusing dengan hujatan atau fitnah, sebab yang terpenting adalah hasil dan bukti nyata di tengah masyarakat. Mureks mencatat bahwa pendekatan evidence-based ini menjadi ciri khas kepemimpinan Prabowo.
“Semua itu kita terima sebagai ya sebagai koreksi juga, enggak apa-apa. Walaupun itu fitnah, itu kalau kita tahu di hati kita bahwa itu tidak benar tapi itu jadi waspada bagi kita ya. Jadi, saudara-saudara saya percaya dengan bukti, evidence based itu cara bekerja saya,” ujarnya.
Oleh karena prinsip tersebut, Prabowo mengaku jarang memberikan wawancara kepada pers, khususnya terkait penanganan bencana. Ia memahami bahwa rakyat Indonesia lebih menghargai tindakan konkret.
“Kalau saudara perhatikan saya jarang kasih wawancara dengan pers, saya bukan saya tidak hormati pers karena saya mengerti psikologi rakyat Indonesia, rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti, bukti. Kita sekarang dalam rangka membuktikan,” jelasnya.
Prabowo juga menyinggung kritik yang menyebut para menteri turun ke lokasi bencana hanya untuk “wisata”. Menurutnya, kunjungan langsung para pejabat bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan kekurangan dalam penanganan, guna kemudian diambil keputusan yang tepat.
“Jadi kalau ada menteri-menteri pejabat turun itu dia tidak turun untuk wisata. Dia datang, dia melihat, mencatat, mengerti mengambil keputusan, kan demikian,” kata Prabowo.
Ia kembali mengingatkan jajarannya untuk tidak terpengaruh oleh kritik. Fokus utama harus tetap pada upaya mengurangi penderitaan rakyat.
“Jadi hal-hal yang apa itu nyinyir-nyinyir itu kita anggap sebagai katakanlah sebagai peringatan bagi kita. Tapi kita tidak boleh terpengaruh ya. Sekali lagi tidak datang salah, datang dicari kesalahan juga, ya nggak papa,” imbuhnya.
Prabowo menutup pernyataannya dengan menekankan tanggung jawab nasional dalam mengurus 280 juta rakyat Indonesia, meskipun ia sendiri berada di pusat pemerintahan.
“Tugas kita, saya walaupun tidak sehari-hari sama saudara ya saya di pusat ya, Saya berpikir bagaimana saya atasi ini, membantu saudara di lapangan. Tetapi sementara nasib 280 juta rakyat Indonesia tetap harus kita urus secara nasional,” pungkasnya.






