Pasar mobil bekas Suzuki Ignis kembali menunjukkan geliat positif di awal tahun 2025. Model city car bergaya crossover ini kian ramai dicari konsumen, terutama dari kalangan anak muda yang membutuhkan kendaraan harian yang irit dan praktis.
Peter, pemilik lapak mobil di Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, mengonfirmasi peningkatan minat tersebut. Menurut Peter, karakter Ignis yang irit bahan bakar serta desainnya yang tidak pasaran menjadi daya tarik utama.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Ignis memang lagi rame. Mungkin karena irit dan nggak pasaran. Kalau dicari, lawannya kan Agya, tapi Ignis ini beda, nggak pasaran,” ujar Peter kepada tim redaksi Mureks belum lama ini.
Fenomena menarik lainnya, meskipun berada di segmen city car, harga Ignis bekas dinilai masih cukup kuat. Bahkan, dalam beberapa kondisi, banderol unit bekasnya bisa sejajar dengan Honda Brio, model yang dikenal memiliki resale value tinggi di pasaran.
“Harganya bahkan masih bisa sama kayak Brio. Padahal Brio itu kuat banget pasarnya,” tambah Peter.
Untuk unit tahun produksi 2018, Peter menyebut Suzuki Ignis saat ini dibanderol di kisaran harga Rp 110 juta hingga Rp 120 jutaan. Harga tersebut tentu bergantung pada kondisi dan jarak tempuh kendaraan.
Profil Konsumen dan Daya Tarik Ignis
Dari sisi profil konsumen, Ignis banyak diminati oleh pembeli dari segmen usia muda. Peter menjelaskan bahwa mayoritas pembelinya adalah anak muda, sementara konsumen yang lebih berusia cenderung kurang melirik model ini.
“Yang nyari itu kebanyakan anak muda. Kalau yang sudah tua justru nggak mau, mungkin karena kekecilan, nggak cocok buat keluarga,” jelasnya.
Dengan dimensi yang ringkas dan biaya kepemilikan yang relatif terjangkau, Ignis juga dinilai sangat cocok sebagai kendaraan pertama, termasuk untuk kebutuhan mahasiswa. “Buat anak-anak kuliahan cocok banget,” pungkas Peter.
Kondisi ini menempatkan Suzuki Ignis sebagai salah satu opsi menarik di pasar mobil bekas bagi konsumen muda yang mencari kendaraan irit, praktis, dan memiliki karakter berbeda. Mureks mencatat bahwa tren ini berpotensi terus berlanjut seiring dengan kebutuhan mobilitas perkotaan yang efisien.






