Gunung Merapi menampilkan pesona gagahnya di tengah cuaca cerah pada Senin (5/1/2026) sore. Pemandangan menawan ini terlihat jelas dari sekitaran Jalan Kaliurang Km 14 dan Jalan Pakem-Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tanpa terhalang awan.
Kondisi langit Sleman yang biru cerah memungkinkan masyarakat dan wisatawan mengabadikan keindahan salah satu gunung teraktif di Indonesia ini. Hamparan hijau persawahan turut melengkapi potret gagahnya Merapi yang menjadi daya tarik tersendiri.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Status Siaga dan Aktivitas Vulkanik
Meskipun menampilkan keindahan, Gunung Merapi saat ini masih berstatus Siaga atau Level III, status yang telah berlaku sejak November 2020. Menurut pantauan Mureks, gunung ini secara periodik mengeluarkan awan panas guguran maupun guguran lava.
Pada periode pengamatan Senin, 5 Januari 2026, Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat adanya enam kali guguran lava. Lima guguran lava di antaranya terjadi antara pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
“Teramati 5 kali guguran lava ke arah Barat Daya (Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong) dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter,” kata Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso dalam keterangan resminya.
Kemudian, satu guguran lava lainnya teramati pada periode pengamatan 06.00 hingga 12.00 WIB. “Teramati 1 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur 1.600 meter,” tambah Agus Budi Santoso.
Potensi Bahaya yang Perlu Diwaspadai
BPPTKG juga mengingatkan potensi bahaya Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas. Potensi ini meliputi sektor selatan-barat daya, yaitu Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.





