Setiap manusia dianjurkan untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup. Dalam Islam, bekerja tidak hanya dipandang sebagai aktivitas duniawi, melainkan juga bagian dari ibadah yang memiliki nilai dan keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW bahkan pernah memberikan panduan spesifik mengenai jenis pekerjaan yang paling baik.
Anjuran Bekerja dalam Islam
Anjuran untuk bekerja dan tidak bergantung pada orang lain telah ditegaskan dalam berbagai riwayat. Salah satunya berasal dari Abu Hurairah RA, yang meriwayatkan sabda Nabi SAW:
Simak artikel informatif lainnya hanya di mureks.co.id.
“Hendaklah seseorang di antara kalian pergi pagi-pagi mencari kayu dan dipikul di atas punggungnya kemudian (menjualnya) lalu bersedekah dengannya serta tidak butuh pada pemberian orang lain lebih baik baginya daripada meminta kepada orang lain diberi atau tidak, karena sesungguhnya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR Muslim)
Selain itu, perintah bekerja juga termaktub dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surah At-Taubah ayat 105. Allah SWT berfirman:
وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan akan dilihat oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, serta akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Pekerjaan Terbaik Menurut Rasulullah SAW
Menariknya, Rasulullah SAW pernah ditanya secara langsung mengenai mata pencarian atau pekerjaan yang paling baik. Jawaban beliau memberikan petunjuk penting bagi umat Muslim dalam memilih dan menjalankan profesi.
Dalam buku 99 Prinsip Bisnis Sukses ala Rasulullah karya A R Shohibul Ulum, disebutkan hadits dari Al Miqdam RA, bahwa Nabi SAW bersabda:
“Makanan apa saja yang dimakan seseorang adalah lebih baik memakan dari hasil usaha tangan sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud AS, beliau maka dari hasil tangannya sendiri.” (HR Bukhari, Abu Daud, an-Nasai)
Hadits ini menyoroti pentingnya kemandirian dan etos kerja, dengan mencontohkan Nabi Daud AS yang meskipun seorang rasul, tetap bekerja keras dengan tangannya sendiri dan tidak berpangku tangan. Mureks mencatat bahwa prinsip ini menekankan nilai dari setiap usaha yang dilakukan secara mandiri.
Pada riwayat lain, ketika ada yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, mata pencarian (kasb) apakah yang paling baik?” Beliau menjawab:
“Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR Ahmad)
Kata “kasb” dalam hadits tersebut merujuk pada usaha atau pekerjaan mencari rezeki melalui jalan yang halal. Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak hanya mencari pekerjaan dengan penghasilan tinggi, tetapi juga yang thayyib atau diberkahi.
Lebih lanjut, Rasulullah SAW juga memuliakan profesi pedagang yang jujur. Dari Abu Sa’id, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Pedagang yang jujur dan terpercaya bersama para Nabi, para shiddiqin dan para syuhada.” (HR At Tirmidzi)
Kejujuran menjadi kunci utama dalam berdagang. Hakim bin Hizam RA meriwayatkan sabda Nabi SAW:
“Penjual dan pembeli dalam masa khiyar selama belum berpisah atau sampai berpisah. Apabila keduanya jujur dan transparan, diberkahilah keduanya dalam jual belinya. Dan apabila saling menyembunyikan dan berbohong, hilanglah berkah dalam jual beli mereka.” (HR Al Bukhari)
Dari hadits-hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah SAW menetapkan kriteria pedagang yang baik adalah mereka yang transparan, terpercaya, menepati janji, tidak melakukan kecurangan, serta memperlakukan konsumen dengan baik dan benar.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Ali Bassam dalam Taudhihul Ahkam menambahkan bahwa pekerjaan terbaik bersifat relatif dan disesuaikan dengan keadaan setiap individu. Yang terpenting, pekerjaan tersebut harus mengandung kebaikan dan bebas dari unsur penipuan.
Tujuan Bekerja dalam Islam
Dalam Islam, bekerja memiliki beberapa tujuan mulia yang melampaui sekadar mencari materi. Menurut buku Etika Bisnis Islam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits yang disusun Chaidir Iswanaji dkk, tujuan-tujuan tersebut meliputi:
- Sebagai kepentingan ibadah kepada Allah SWT.
- Memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga.
- Memenuhi kebutuhan sosial dan berkontribusi pada masyarakat.
- Membangun kemandirian dan menghindari ketergantungan pada orang lain.
Keutamaan Bekerja bagi Muslim
Bekerja dengan niat yang benar dan cara yang halal akan mendatangkan banyak keutamaan bagi seorang Muslim. La Ode Alimusa dalam bukunya Pengantar Bisnis dan Lembaga Ekonomi menjelaskan beberapa keutamaan tersebut:
- Mendapat pahala dari Allah SWT.
- Diampuni dosanya melalui jerih payah yang halal.
- Diganjar pahala sedekah jika sebagian hasilnya disedekahkan.
- Menghindarkan diri dari kehinaan meminta-minta atau bergantung pada orang lain.
Dengan demikian, bekerja bukan hanya kewajiban, tetapi juga jalan untuk meraih keberkahan dan kemuliaan di sisi Allah SWT.






