Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah memasuki tahap akhir dan siap untuk diresmikan. Di sisi lain, dinamika geopolitik di Amerika Latin memanas menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS, yang menimbulkan ketidakpastian bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok di kawasan tersebut.
Airlangga Hartarto, dalam pernyataannya pada Selasa (06/01/2026), menegaskan komitmen kedua negara untuk segera merampungkan kesepakatan dagang ini. Perjanjian ini diharapkan dapat memperkuat hubungan ekonomi bilateral dan membuka peluang investasi baru bagi kedua belah pihak.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Sementara itu, ketidakpastian menyelimuti operasional perusahaan-perusahaan Tiongkok di Amerika Latin. Penangkapan Presiden Maduro oleh AS dinilai sebagai upaya Washington untuk menegaskan kembali dominasinya di wilayah tersebut, menurut pantauan Mureks.
Para analis mengamati bahwa langkah AS ini berpotensi meningkatkan tensi geopolitik dan ekonomi di kawasan, khususnya bagi investasi Tiongkok yang selama ini cukup masif di berbagai negara Amerika Latin. Situasi ini menciptakan tantangan baru bagi Beijing dalam menjaga kepentingannya di sana.






