Jumat, 02 Januari 2026 – Peristiwa pengepungan Masjidil Haram pada tahun 1979 menjadi salah satu insiden paling menggemparkan dalam sejarah Islam modern. Ratusan pria bersenjata menyerbu tempat suci umat Islam tersebut saat subuh, mengambil alih kendali, dan bertahan selama hampir dua minggu. Aksi ini tidak hanya mengusik stabilitas Kerajaan Arab Saudi, tetapi juga memicu perubahan besar dalam dinamika keagamaan dan politik di Timur Tengah.
Banyak pihak menyoroti keterlibatan Al Qahtani dan kelompok pendukungnya dalam upaya kudeta ini, serta dampaknya yang jauh melampaui batas Arab Saudi.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Kudeta Mekkah 1979: Gejolak Sosial dan Politik
Pengepungan Masjidil Haram 1979 menandai babak baru dalam sejarah konflik keagamaan di wilayah Arab. Menurut penelitian Allison, M. dalam Militants Seize Mecca: The Effects of the 1979 Siege of Mecca Revisited, insiden ini bukan sekadar aksi kekerasan, melainkan juga cerminan gejolak sosial dan politik yang terjadi di Saudi saat itu. Mureks mencatat bahwa kudeta ini secara signifikan mengguncang dunia Islam pada akhir abad ke-20.
Latar belakang peristiwa ini adalah modernisasi pesat yang dijalankan pemerintah Arab Saudi, yang mendapat tentangan keras dari kelompok konservatif. Mereka merasa nilai-nilai Islam mulai tergerus, menciptakan tensi yang menjadi pemicu utama kudeta.
Kronologi dan Tokoh Kunci
Peristiwa dimulai saat subuh, ketika ratusan pria bersenjata menyerbu Masjidil Haram dan mengambil alih kendali. Mereka sempat bertahan selama hampir dua minggu, menghadapi pasukan keamanan Saudi. Pengepungan berakhir setelah operasi militer besar-besaran yang menewaskan banyak korban dari kedua belah pihak.
Kelompok pelaku terdiri dari milisi radikal yang dipimpin oleh orang-orang berpengaruh dalam gerakan keagamaan saat itu. Di antara mereka, Al Qahtani menonjol sebagai sosok sentral yang menggerakkan aksi ini. Kelompok ini percaya bahwa perubahan besar harus dilakukan demi menyelamatkan ajaran Islam di tanah suci.
Peran Al Qahtani dan Klaim Mahdi
Nama Al Qahtani mendapat sorotan tajam dalam setiap pembahasan tentang pengepungan Masjidil Haram. Ia dikenal sebagai pemimpin spiritual sekaligus simbol perlawanan terhadap pemerintah Saudi yang dianggap terlalu kompromistis terhadap modernisasi. Peran Al Qahtani tak bisa dilepaskan dari dinamika politik dan agama masa itu.
Al Qahtani adalah seorang ulama muda yang memiliki pengaruh kuat di kalangan pengikutnya. Ia dikenal karena ketegasan dan keyakinannya akan pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam. Kedekatannya dengan kelompok militan membuat namanya semakin identik dengan peristiwa 1979.
Salah satu hal paling kontroversial adalah klaim Al Qahtani sebagai Mahdi, figur mesianis dalam tradisi Islam yang diyakini akan muncul menjelang akhir zaman. Klaim ini meningkatkan semangat juang para pengikutnya, memperkuat legitimasi aksi mereka di mata para pendukung.
Aksi pengepungan ini didorong oleh keyakinan bahwa pemerintah telah melenceng dari prinsip-prinsip Islam. Kelompok Al Qahtani menilai modernisasi dan kebijakan kerajaan mengancam identitas keagamaan masyarakat. Oleh karena itu, mereka memilih jalur perlawanan dengan harapan mengembalikan kejayaan Islam sesuai ajaran Al Quran.
Dampak dan Perubahan Kebijakan
Tragedi ini tidak hanya mengguncang Arab Saudi, tetapi juga memicu reaksi luas di seluruh dunia Islam. Banyak negara Muslim memandang peristiwa tersebut sebagai peringatan akan potensi radikalisasi dan pentingnya menjaga stabilitas politik di kawasan suci. Pemerintah Saudi pun segera melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kebijakan dalam negeri.
Segera setelah pengepungan berakhir, pemerintah Arab Saudi memperketat pengawasan keamanan dan memperkuat posisi ulama dalam pemerintahan. Negara-negara Islam lain turut mengecam aksi kekerasan serta menyerukan perdamaian dan dialog.
Tragedi berdarah ini menjadi titik balik bagi kebijakan keagamaan di Arab Saudi. Kerajaan memperkuat peran ulama dalam kehidupan publik dan menyesuaikan beberapa kebijakan agar lebih selaras dengan aspirasi kelompok konservatif. Perubahan-perubahan ini terasa hingga beberapa dekade berikutnya.
Tragedi ini juga memengaruhi cara dunia memandang Islam, terutama dalam konteks radikalisme dan kekerasan. Banyak pihak mulai menyoroti pentingnya upaya moderasi dalam dakwah serta pencegahan penyalahgunaan simbol agama untuk kepentingan politik.
Pengepungan Masjidil Haram 1979 menjadi pengingat betapa rentannya stabilitas politik dan keagamaan di kawasan suci. Peristiwa ini menegaskan pentingnya dialog terbuka antara pemerintah, ulama, dan masyarakat demi menjaga keharmonisan umat. Menurut Sulasrar dalam Tragedi Berdarah Masjidil Haram 1979, tragedi ini juga membawa pelajaran berharga tentang bahaya ekstremisme dan perlunya introspeksi kolektif agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang.






