Sabtu, 03 Januari 2026 – Jeff Parsons, Editor-in-Chief Tom’s Guide di Inggris, membagikan pengalamannya dalam meningkatkan asupan nutrisi melalui konsumsi smoothie. Setelah bertahun-tahun mengonsumsi smoothie secara sporadis, Parsons memutuskan bahwa tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk lebih serius dalam mencapai tujuan nutrisinya.
Parsons mengungkapkan bahwa ia lebih memilih menikmati smoothie lezat daripada harus menelan air rasa cokelat bercampur gumpalan bubuk protein. Seperti kebanyakan orang yang berjuang mengikuti ritme hidup yang serba cepat, ia sering menjadikan smoothie sebagai pengganti makanan. Namun, kebiasaan ini kerap terhambat oleh kebutuhan untuk berbelanja bahan dan menyiapkan smoothie jauh-jauh hari, yang seringkali berakhir dengan hanya satu minggu konsumsi smoothie diikuti oleh beberapa minggu tanpa smoothie sama sekali.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Keputusan Beralih ke Nutribullet Ultra 1200
Setelah berdiskusi dengan rekan-rekannya di Tom’s Guide yang berpengalaman menguji berbagai blender terbaik, Parsons akhirnya memutuskan untuk membeli Nutribullet Ultra 1200. Blender ini, yang juga dikenal dengan warna pepaya khas tim Formula 1 McLaren, diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan rutinitas smoothie-nya. Parsons tidak hanya ingin mengganti sarapan sesekali dengan smoothie, tetapi juga menggunakannya untuk meningkatkan asupan protein di antara waktu makan dan menghentikan kebiasaan ngemil larut malam.
Sebelumnya, Parsons menggunakan blender seharga sekitar $30 (sekitar Rp400 ribu) yang dibeli secara spontan dari toko diskon. Model tersebut adalah “Blaupunkt Stainless Steel 1.5 litre Glass Jug Blender” dengan bilah 4-titik baja tahan karat, lima pengaturan kecepatan variabel termasuk opsi pulse, daya 600W, dan kapasitas 1,5 liter (52oz).
Perbandingan Signifikan: Nutribullet vs. Blender Lama
Nutribullet Ultra 1200, di sisi lain, memiliki kapasitas 32oz (sekitar 0,95 liter) dan daya dua kali lipat lebih besar, yaitu 1.200W. Harganya juga jauh lebih mahal, sekitar $129 (sekitar Rp2 juta). Namun, menurut Parsons, setelah beberapa hari penggunaan, perbedaan harga sekitar Rp1,6 juta itu sangat sepadan.
| Fitur | Blaupunkt (Blender Lama) | Nutribullet Ultra 1200 |
|---|---|---|
| Harga | Sekitar $30 (Rp400 ribu) | Sekitar $129 (Rp2 juta) |
| Daya | 600W | 1.200W |
| Kapasitas | 1,5 liter (52oz) | 0,95 liter (32oz) |
| Bilah | 4-titik baja tahan karat | 6-titik berlapis titanium |
| Kecepatan | 5 variabel + pulse | Tombol pulse |
| Garansi Bilah | Tidak ada | 5 tahun terbatas |
| Kebisingan | 94dB | 87dB |
Manfaat terbesar yang dirasakan Parsons dari Nutribullet adalah kemudahan membersihkannya. Blender ini hanya memiliki dua bagian: bilah dan cangkir. Blender lamanya lebih besar, lebih berat, dan terpisah menjadi lebih banyak bagian, yang semuanya menambah waktu pembersihan. Dengan Nutribullet, ia dapat membuat satu jenis smoothie, menuangkannya ke wadah lain, membilas dan mencuci komponen, lalu siap membuat jenis kedua dalam waktu sekitar setengah dari blender lamanya. “Ketika Anda (terus-menerus) terburu-buru, setiap waktu yang dihemat adalah sebuah keuntungan,” ujar Parsons.
Selain itu, Nutribullet Ultra 1200 juga lebih cepat dalam mengolah bahan. Meskipun tidak memiliki banyak pengaturan kecepatan, tombol pulse-nya sudah cukup untuk sebagian besar kebutuhan. Bilah Nutribullet juga dilengkapi dengan garansi terbatas 5 tahun, sesuatu yang tidak didapatkan dari pembelian blender murah tanpa merek.
Tingkat kebisingan juga menjadi perhatian. Nutribullet Ultra 1200, yang merupakan model paling kuat dari merek tersebut, memiliki tingkat kebisingan 87dB. Angka ini memang masih tergolong keras—tidak memungkinkan percakapan di dekatnya saat beroperasi—tetapi lebih senyap dibandingkan Blaupunkt lamanya yang mencapai 94dB saat diuji Parsons.
Fitur lain yang diapresiasi Parsons adalah cangkir plastik Nutribullet yang sekaligus berfungsi sebagai shaker. Ia bisa langsung melepasnya dari blender, memasang tutupnya, dan langsung membawanya pergi. Ini sangat praktis jika hanya perlu memblender dan langsung berangkat tanpa perlu menuang ke wadah lain.
Investasi untuk Gaya Hidup Sehat
Parsons mengakui bahwa melihat Nutribullet di meja dapur setiap hari memotivasinya untuk menggunakannya. Ia ingin menjadikan smoothie sebagai bagian integral dari rencana nutrisinya, bukan sekadar pelengkap. “Meskipun tidak seharusnya membutuhkan pembelian mewah untuk melakukan ini, dalam kasus saya, itu berhasil,” katanya.
Setiap kali menggunakannya, Parsons merasa bahwa tambahan $100 (sekitar Rp1,6 juta) memberikan nilai lebih. Blender ini lebih cepat, lebih senyap, lebih bersih, dan lebih baik daripada mesin seharga $30 yang ia gunakan sebelumnya. Parsons memahami bahwa bagi banyak orang, $100 adalah investasi besar dan ia menyarankan untuk hanya melakukan pembelian tersebut jika berencana menggunakannya secara teratur. Menurut Mureks, konsistensi penggunaan adalah kunci utama dalam menilai investasi pada peralatan rumah tangga.
Sebagai konteks, Nutribullet 600 (yang belum diuji Tom’s Guide) dijual seharga $79 (sekitar Rp1,2 juta), dan Nutribullet 900, yang mendapatkan ulasan 4,5 bintang dari Tom’s Guide, seharga $109 (sekitar Rp1,7 juta).






