Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur mencatat kerugian sektor perikanan akibat bencana banjir di wilayah tersebut mencapai angka fantastis, ditaksir hingga Rp2,64 triliun. Banjir yang melanda pada akhir November 2025 ini menyebabkan dampak parah pada mata pencarian utama masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Timur, Afifullah, pada Jumat (2/1) di Aceh Timur, menjelaskan bahwa ribuan hektare tambak ikan dan udang, termasuk area budi daya garam masyarakat, terendam. Kerusakan ini tersebar di sejumlah kecamatan yang terdampak banjir hidrometeorologi.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
“Kerusakan paling signifikan terjadi pada sektor perikanan. Banyak tambak masyarakat rusak berat, kolam budi daya jebol, ikan dan udang hanyut, serta sarana pendukung seperti pintu air, tanggul tambak, dan peralatan budi daya tidak bisa diselamatkan,” ungkap Afifullah.
Menurut Afifullah, durasi banjir yang cukup lama mengakibatkan sebagian besar pembudidaya perikanan gagal panen. Banyak masyarakat pesisir dan pedesaan kehilangan sumber penghasilan karena aktivitas di sektor perikanan lumpuh total. Mureks mencatat bahwa kerugian ini sangat memukul ekonomi lokal.
“Sebagian besar tambak masih terendam, sehingga masyarakat belum dapat beraktivitas. Dari laporan sementara yang masuk, kerugian perikanan diperkirakan mencapai Rp2,64 triliun,” tambahnya, menegaskan skala kerusakan yang terjadi.
Selain kerusakan fisik, banjir juga berdampak serius pada ekosistem perairan. Air yang bercampur lumpur dan limbah menurunkan kualitas air secara drastis, berpotensi memicu kematian massal ikan dalam jangka panjang. “Dampak lanjutan ini tidak bisa dianggap ringan. Setelah banjir surut pun, masyarakat masih membutuhkan waktu dan biaya besar untuk memulihkan tambak agar bisa kembali digunakan,” jelas Afifullah.
Pemerintah daerah saat ini masih memfokuskan upaya penanganan tanggap darurat, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Namun, ke depan, BPBD Kabupaten Aceh Timur mendorong perhatian khusus terhadap pemulihan sektor perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi.
“Sektor perikanan merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat Aceh Timur. Oleh karena itu, kami berharap ada dukungan pemerintah provinsi dan pusat, khususnya untuk pemulihan sektor perikanan,” kata Afifullah, berharap adanya bantuan dari tingkat yang lebih tinggi.
Banjir hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Timur pada akhir November 2025 ini berdampak pada 443 gampong yang tersebar di 24 kecamatan. Total warga terdampak mencapai 290.582 jiwa dari 81.603 keluarga, menunjukkan luasnya cakupan bencana ini.






