Awal tahun 2026 akan dibuka dengan kehadiran film drama yang menjanjikan ketegangan psikologis mendalam, Musuh Dalam Selimut. Film ini tidak hanya menguji nyali, tetapi juga mengusik emosi penonton dengan kisah tentang retaknya kepercayaan dari dalam rumah tangga, yang terasa dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Dibintangi oleh Yasmin Napper, Megan Domani, dan Arbani Yasiz, film ini diarahkan oleh sutradara Hadrah Daeng Ratu. Produksi Musuh Dalam Selimut merupakan kolaborasi antara Narasi Semesta, Unlimited Production, Legacy Pictures, A&Z, dan Subtube, menjanjikan sebuah tontonan yang digarap serius.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Dari Kehidupan Normal Menuju Kecurigaan yang Mengusik
Alur cerita mengajak penonton untuk menyelami kehidupan Gadis, seorang perempuan yang merasa hidupnya berjalan baik-baik saja. Gadis menjalani rumah tangga yang stabil, menyimpan harapan sederhana, dan menjalani rutinitas yang tampak normal. Kehangatan hidup Gadis semakin lengkap ketika ia mengandung anak pertamanya.
Pada fase inilah Suzy hadir. Sosok tetangga yang perlahan berubah menjadi sahabat itu sigap membantu, penuh perhatian, dan selalu muncul di momen-momen sakral rumah tangga Gadis. Namun, menurut Mureks, kedekatan yang awalnya terasa wajar perlahan berubah arah. Hubungan itu menjadi ganjil—terlalu sempurna, terlalu sering hadir, dan terasa terlalu masuk ke ruang pribadi.
Situasi kian rumit saat Andika, suami Gadis, ikut terseret dalam kedekatan yang sulit dijelaskan. Di titik ini, film mulai menggeser emosi penonton dari simpati menuju rasa ragu dan curiga, membangun fondasi konflik yang kuat.
Ketegangan dari Detail Kecil yang Menggigit
Musuh Dalam Selimut tidak mengandalkan konflik besar semata. Film ini membangun ketegangan dari detail-detail kecil: jeda percakapan, tatapan yang terlalu lama, hingga gestur yang tampak manis tetapi menyisakan rasa dingin. Pendekatan tersebut sengaja dipilih Hadrah Daeng Ratu dengan menanamkan pondasi karakter yang kuat dan alasan tindakan yang jelas. Dengan cara itu, penonton ikut “terjebak” dalam kebimbangan yang terasa manusiawi.
Hadrah Daeng Ratu dalam keterangannya, Jumat 2 Januari 2026, mengungkapkan, “Pegangan utama saya saat menyutradarai Musuh Dalam Selimut adalah membangun background karakter yang kuat. Storytelling setiap karakter menjadi penting, supaya penonton paham alasan di balik setiap tindakan mereka. Saya tidak ingin kisah perselingkuhan ini hanya jadi cinta segitiga biasa, tapi juga menceritakan trauma-trauma yang dihadapi karakter dalam menjalani hidupnya setelah melewati banyak luka.”
Ia menambahkan bahwa tensi cerita berkembang secara bertahap. Film ini memulai semuanya dari rasa aman yang terlihat wajar, lalu menumbuhkan kecurigaan melalui potongan-potongan informasi kecil, menciptakan pengalaman menonton yang mendalam dan penuh intrik.






