Synopsys (SNPS), perusahaan penyedia perangkat lunak desain dan kekayaan intelektual (IP) untuk industri semikonduktor dan elektronik, berhasil membukukan hasil kuartal keempat (Q4) yang mencapai batas atas panduan perusahaan. Namun, pertumbuhan signifikan ini tercatat masih sangat terkonsentrasi pada proyek-proyek infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang memiliki urgensi tinggi.
Konsentrasi pertumbuhan pada sektor AI ini menimbulkan potensi risiko bagi Synopsys. Meskipun demikian, perusahaan terus berupaya memperkuat posisinya melalui akuisisi strategis. Integrasi akuisisi Ansys, yang bertujuan untuk solusi rekayasa berbasis sistem dan fisika, dilaporkan berjalan sesuai rencana. Manfaat penuh dari integrasi ini diperkirakan akan terwujud secara bertahap seiring dengan konvergensi alur kerja.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Tantangan Pasar dan Restrukturisasi
Di sisi lain, Synopsys menghadapi tantangan signifikan di pasar Tiongkok. Pendapatan perusahaan dari Tiongkok mengalami penurunan sebesar 18 persen pada tahun 2025. Penurunan ini dipicu oleh pembatasan ekspor yang berkelanjutan, yang mendorong pelanggan untuk beralih ke alternatif perangkat lunak Desain Otomasi Elektronik (EDA) domestik. Kondisi ini menjadi hambatan persisten bagi pangsa pasar Synopsys di wilayah tersebut.
Mureks mencatat bahwa meskipun menghadapi tekanan pasar di Tiongkok, Synopsys berhasil meningkatkan margin keuntungannya. Peningkatan ini dicapai melalui langkah-langkah pengendalian biaya yang ketat dan restrukturisasi internal. Upaya efisiensi ini turut berkontribusi pada arus kas bebas (free cash flow) yang lebih kuat.
Dampak Utang Akuisisi
Namun, peningkatan utang pasca-akuisi Ansys menjadi perhatian. Tingginya tingkat utang ini membatasi fleksibilitas modal perusahaan, meskipun arus kas bebas menunjukkan performa yang lebih baik. Synopsys sendiri memiliki dua lini bisnis utama: otomatisasi desain dan IP desain, yang keduanya krusial dalam ekosistem pengembangan semikonduktor modern.






