Keuangan

Konflik AS-Venezuela Memanas, Daya Saing Ekspor Indonesia Terancam Tekanan Biaya Logistik Global

Ketegangan geopolitik global kembali menguat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dan kelancaran rantai pasok global, termasuk bagi ekspor Indonesia. Konflik ini terjadi di tengah upaya Indonesia memperluas diversifikasi pasar ekspor, khususnya ke kawasan Amerika Selatan, melalui berbagai inisiatif kerja sama perdagangan.

Meskipun tidak berdampak langsung terhadap jalur perdagangan, eskalasi konflik dinilai berpotensi memunculkan efek lanjutan yang menekan daya saing ekspor nasional. Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, pada Rabu (7/1/2026), mengatakan bahwa dampak tidak langsung dari konflik geopolitik tetap perlu diantisipasi oleh pelaku usaha Indonesia.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Potensi Dampak Lanjutan dan Tekanan Biaya Logistik

Setijadi menegaskan, “Kami menilai bahwa meskipun konflik tersebut tidak berdampak langsung terhadap jalur perdagangan Indonesia–Amerika Selatan, potensi dampak lanjutan (secondary impact) tetap perlu diwaspadai.” Menurut Setijadi, gangguan geopolitik di negara produsen energi berisiko memicu volatilitas harga minyak global. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada kenaikan biaya bahan bakar dan ongkos logistik internasional.

“Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global,” ujarnya. Kenaikan ongkos logistik ini dinilai dapat menekan daya saing harga produk ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah yang sensitif terhadap biaya pengiriman.

Selain faktor biaya, eskalasi ketegangan global juga berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman barang. “Eskalasi ketegangan global juga berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman,” kata Setijadi. Penyesuaian rute pelayaran, konsolidasi muatan, hingga perubahan port of call oleh perusahaan pelayaran berisiko memperpanjang lead time dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan, termasuk ke negara tujuan utama seperti Peru dan Brasil.

Importir Lebih Berhati-hati, Eksportir Perlu Adaptasi

Dari sisi permintaan, Setijadi mencermati kecenderungan buyer di kawasan Amerika Selatan untuk bersikap lebih hati-hati dalam mengambil keputusan impor di tengah meningkatnya ketidakpastian global. “Importir cenderung memperketat klausul kontrak, meminta fleksibilitas jadwal pengiriman, serta menuntut jaminan kontinuitas pasokan,” ungkap dia.

Dalam kondisi tersebut, penguatan ketahanan rantai pasok dinilai menjadi kunci bagi eksportir Indonesia. Diversifikasi rute pengiriman dan mitra logistik disebut sebagai langkah awal untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur atau satu penyedia jasa pelayaran. “Diversifikasi rute pengiriman dan mitra logistik menjadi langkah awal untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur atau satu penyedia jasa pelayaran,” jelas Setijadi.

Mureks mencatat bahwa eksportir juga perlu secara proaktif meninjau dan menyesuaikan klausul kontrak ekspor, khususnya terkait jadwal pengiriman, mekanisme penyesuaian biaya logistik, serta pengaturan force majeure. “Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan hubungan bisnis dengan buyer di tengah dinamika global yang cepat berubah,” tambahnya.

Setijadi menegaskan, eskalasi geopolitik global seharusnya tidak menghambat agenda diversifikasi pasar ekspor Indonesia ke Amerika Selatan. “Dengan strategi logistik yang adaptif, komunikasi yang transparan dengan mitra dagang, serta penguatan manajemen risiko rantai pasok, Indonesia justru berpeluang memperkuat posisi sebagai mitra dagang yang handal dan kompetitif,” tegasnya.

Mureks