Keuangan

IHSG Menguat 0,84% ke 8.933,61, Cetak Rekor ATH Baru di Tengah Geopolitik Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Selasa (6/1/2026). Indeks melanjutkan reli positif pekan ini dengan penguatan signifikan, menutup sesi perdagangan di level 8.933,61.

Pada akhir perdagangan sesi kedua, IHSG berhasil melompat 0,84% atau setara 74,42 poin. Pencapaian ini menandai rekor harga penutupan perdagangan tertinggi sepanjang sejarah bursa saham Indonesia.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Aktivitas perdagangan hari ini tergolong ramai, dengan nilai transaksi mencapai Rp 34,14 triliun. Sebanyak 67,91 miliar saham berpindah tangan dalam 4,37 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar bursa tercatat sebesar Rp 16.337 triliun, mendekati angka US$ 1 miliar.

Pergerakan saham didominasi oleh penguatan, di mana 428 saham naik, 256 saham turun, dan 127 saham lainnya tidak bergerak. Saham-saham komoditas menjadi primadona dengan volume transaksi tertinggi.

Transaksi di saham BUMI mencapai Rp 4,02 triliun, diikuti oleh DEWA dengan Rp 2 triliun, dan AMMN sebesar Rp 1,29 triliun. Selain itu, terdapat transaksi negosiasi yang cukup besar, termasuk di saham DEWA senilai Rp 270,1 miliar dengan harga rata-rata Rp 645 per saham.

Transaksi negosiasi juga terjadi pada saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) senilai Rp 215,2 miliar, melibatkan 589,7 ribu lot dalam 15 kali transaksi. Harga rata-rata transaksi BBRI tercatat Rp 3.643 per saham.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau, dengan sektor barang baku mencatatkan penguatan terbesar. Sebaliknya, sektor energi mengalami koreksi paling dalam pada hari ini.

Saham-saham yang menjadi penggerak utama IHSG meliputi AMMN, BBCA, BBRI, MDKA, dan PTRO. Sementara itu, saham-saham seperti BMRI, TLKM, DSSA, BREN, dan BRPT menjadi pemberat utama kinerja indeks.

Kondisi Geopolitik dan Ekonomi Pengaruhi Pasar

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan volatil di tengah kisruh geopolitik global. Investor terus mencerna data ekonomi terbaru serta arah kebijakan ekonomi ke depan.

Pekan pertama tahun 2026 dibuka dengan guncangan geopolitik dari Amerika Latin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer besar-besaran yang langsung menyasar jantung kekuasaan di Caracas. Peristiwa ini berpotensi memicu turbulensi di pasar global, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik sejak awal tahun.

Beralih ke dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Desember 2025 mencapai 0,64% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,92% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kelompok makanan menjadi pendorong utama tekanan harga sepanjang 2025, dengan inflasi 1,66% dan memberikan andil 0,48% terhadap inflasi nasional.

Mureks mencatat bahwa secara historis, tingkat inflasi 2,92% ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang hanya 1,57%, yang juga tercatat sebagai inflasi tahunan terendah dalam sejarah Indonesia. Inflasi 2025 merupakan yang tertinggi sejak tahun 2023.

Sementara itu, pasar Asia-Pasifik dibuka beragam pada hari Selasa, melanjutkan reli di pasar saham global karena investor terus menilai ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung setelah serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan Nicolas Maduro. Indeks acuan Nikkei 225 Jepang naik 1,12%, sementara Topix melonjak 1,48% ke rekor tertinggi. Kospi Korea Selatan turun 0,85%, sementara Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil naik tipis 0,09%. ASX/S&P 200 Australia turun 0,42%. Indeks Hang Seng Hong Kong diperkirakan akan dibuka lebih tinggi, dengan kontrak berjangka diperdagangkan pada 26.562, dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.347,24.

Mureks