Pemerintah Indonesia mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan raksasa kecerdasan buatan (AI) global mulai melirik potensi investasi di Tanah Air. Daya tarik utama Indonesia terletak pada ketersediaan sumber energi yang melimpah, krusial untuk menopang kebutuhan pusat data dan infrastruktur AI yang terus berkembang.
Deputi Promosi Penanaman Modal dan Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, membenarkan adanya ketertarikan tersebut. Ia menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan AI global melihat Indonesia sebagai ladang energi potensial untuk mendukung ekosistem mereka.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
“Yang saya bisa katakan pasti adalah ketertarikannya ada,” ujar Nurul kepada wartawan di Wisma Danantara pada Jumat (9/1/2026). Meski demikian, Nurul masih enggan merinci identitas perusahaan-perusahaan AI yang menunjukkan minat investasi di Indonesia.
Kebutuhan energi yang masif memang menjadi konsekuensi logis dari perkembangan pesat teknologi AI. Komputer dan pusat data yang menjadi tulang punggung ekosistem AI memerlukan pasokan listrik dalam jumlah besar. Fenomena ini mendorong para pemain utama di industri AI untuk mencari lokasi strategis dengan cadangan energi yang memadai, salah satunya di Asia Tenggara.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporannya menyoroti lonjakan konsumsi listrik untuk pusat data secara global. Catatan Mureks menunjukkan, konsumsi listrik untuk pusat data diperkirakan mencapai sekitar 415 terawatt jam (TWh) pada tahun 2024, setara dengan sekitar 1,5% dari total konsumsi listrik dunia.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 12% per tahun selama lima tahun terakhir. IEA memproyeksikan kebutuhan listrik ini akan berlipat ganda pada tahun 2030, menguasai porsi hingga 3% dari keseluruhan konsumsi listrik global.
“Skenario Dasar kami menemukan bahwa konsumsi listrik global untuk pusat data diproyeksikan akan berlipat ganda hingga mencapai sekitar 945 TWh pada tahun 2030, yang mewakili kurang dari 3% dari total konsumsi listrik global pada tahun 2030,” demikian kutipan laporan IEA yang dirilis Jumat (9/1/2026).
Laporan tersebut juga menambahkan, “Dari tahun 2024 hingga 2030, konsumsi listrik pusat data tumbuh sekitar 15% per tahun, lebih dari empat kali lebih cepat daripada pertumbuhan total konsumsi listrik dari semua sektor lainnya.”
Dengan proyeksi peningkatan kebutuhan energi yang drastis ini, posisi Indonesia sebagai negara dengan potensi energi besar menjadi sangat strategis dalam peta persaingan ekosistem AI global.






