Lifestyle

Pemerintah Tetapkan 16 Januari 2026 sebagai Tanggal Merah Nasional Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan Jumat, 16 Januari 2026, sebagai hari libur nasional dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Momen ini merupakan hari besar bagi umat Islam, menjadi pengingat akan perjalanan spiritual luar biasa yang dialami Rasulullah SAW.

Penetapan tanggal merah ini secara resmi tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri: Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. SKB Nomor 1497/2025, Nomor 2/2025, dan Nomor 5/2025 tersebut mengatur tentang Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2026. Mureks mencatat bahwa penetapan ini konsisten dengan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, di mana 27 Rajab 1447 H bertepatan dengan 16 Januari 2026.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Sejarah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Dikutip dari buku Isra Miraj oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Jalaluddin As-Suyuthi, Arya Noor Amarsyah, dan Fedrian Hasmand, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Hamad Ibnu Salamah, dari Tsabit al-Banani, dari Anas Ibnu Malik RA, mengisahkan perjalanan agung Rasulullah SAW:

“Dibawakan kepadaku Buraq sejenis hewan berwarna putih, tubuhnya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal yang langkah kakinya sejauh matanya memandang. Aku pun mengendarainya sampai tiba di Baitul Maqdis. Buraq itu kutambatkan dengan tali yang digunakan oleh para nabi.

Kemudian aku masuk Masjidil Aqsha dan kudirikan shalat dua rakaat. Setelah aku keluar, Malaikat Jibril AS membawakan ke hadapanku segelas arak dan susu. Aku lantas memilih susu. Jibril pun berkata, “Engkau telah memilih fitrah.”

Peristiwa Langit Pertama

“Selanjutnya kami dinaikkan ke langit pertama. Lalu Jibril meminta agar pintunya dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Kemudian Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Penjaga pintu langit kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?” Jibril menjawab, “Dia memang diutus (untuk naik menghadap Allah).” Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Adam AS. Dia pun menyebutku dan mendoakan kebaikan untukku.”

Peristiwa Langit Kedua

“Selanjutnya kami dinaikkan ke langit kedua. Jibril AS juga meminta agar pintu langit itu dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?” Jibril menjawab, “Dia memang diutus (untuk naik menghadap Allah).” Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan dua orang sepupuku, yaitu Isa Ibnu Maryam AS dan Yahya ibn Zakariya AS. Keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.”

Peristiwa Langit Ketiga

“Selanjutnya kami dinaikkan ke langit ketiga. Jibril AS lalu meminta agar pintu langit ini dibukakan. Dia pun ditanya, “Siapa kamu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?” Jibril menjawab, “Dia memang diutus (untuk naik menghadap Allah).” Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Yusuf AS yang ternyata ketampanannya luar biasa. Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.”

Peristiwa Langit Keempat

“Selanjutnya kami dinaikkan ke langit keempat. Jibril AS meminta agar pintu langit ini dibukakan. Kemudian dia ditanya, “Siapa kamu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?” Jibril menjawab, “Dia memang diutus (untuk naik menghadap Allah).” Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Idris AS. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.”

Memang benar firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Maryam ayat 57: وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا Wa rafa’nāhu makānan ‘aliyyā(n). Artinya: “Kami telah mengangkatnya (Idris AS) ke martabat yang tinggi.”

Peristiwa Langit Kelima

“Selanjutnya kami dinaikkan ke langit kelima. Jibril AS meminta agar pintu langit itu dibukakan. Kemudian dia ditanya, “Siapa kamu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?” Jibril menjawab, “Dia memang diutus (untuk naik menghadap Allah).” Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Harun AS. Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.”

Peristiwa Langit Keenam

“Selanjutnya kami dinaikkan ke langit keenam. Jibril AS lalu meminta agar pintu langit itu dibukakan. Dia pun ditanya, “Siapa kamu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?” Jibril menjawab, “Dia memang diutus (untuk naik menghadap Allah).” Kemudian, pintunya dibukakan untuk kami. Disana, aku bertemu dengan Musa AS. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.”

Peristiwa Langit Ketujuh

“Selanjutnya kami dinaikkan ke langit ketujuh. Jibril AS pun meminta agar pintu langit dibukakan. Dia lalu ditanya, “Siapa kamu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad.” Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?” Jibril menjawab, “Dia memang diutus (untuk naik menghadap Allah).” Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Ibrahim AS yang sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur. Setiap harinya, Baitul Ma’mur dikunjungi oleh tujuh puluh ribu malaikat yang tidak pernah mengunjunginya lagi sesudahnya (70 ribu malaikat yang masuk ke Baitul Ma’mur setiap harinya selalu pendatang baru).”

Kisah Dibalik Perintah Shalat 5 Waktu

“Kemudian Jibril membawaku ke (pohon) Sidratul Muntaha yang daun-daunnya selebar telinga gajah dan buah-buahnya sebesar kendi. Tatkala Allah menitahkan perintah-Nya, (pohon) Sidratul Muntaha langsung berubah sehingga tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggambarkannya karena sangat indah.

Allah pun memberiku wahyu dan mewajibkan shalat lima puluh kali kepadaku dalam sehari semalam. Kemudian aku turun lagi dan bertemu dengan Musa AS. Dia bertanya, “Apakah yang diwajibkan oleh Tuhanmu kepada umatmu?” Aku menjawab, “Lima puluh kali shalat sehari semalam.” Dia berkata, “Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya. Sebab, umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Aku telah menguji Bani Israil.”

Maka aku kembali menghadap Tuhanku dan memohon, “Wahai Tuhanku! Berilah keringanan kepada umatku.” Allah SWT lantas mengurangi lima (shalat) dariku.

Kemudian aku kembali menemui Musa dan kukatakan, “Allah telah mengurangi lima (shalat) dariku.” Namun, Musa berkata, “Umatmu tidak akan mampu melakukan itu. Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi.”

Aku terus mondar-mandir antara Tuhanku dan Musa AS hingga akhirnya Allah berfirman, “Hai Muhammad! Shalat yang Ku-wajibkan adalah lima kali dalam sehari semalam. Pahala tiap-tiap shalat itu digandakan sepuluh kali lipat. Oleh karena itu, mendirikan shalat lima kali sama saja dengan mendirikan shalat lima puluh kali. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan namun dia tidak jadi melaksanakannya maka dicatat untuknya satu kebaikan. Andaikan dia melaksanakannya maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu keburukan namun dia tidak jadi melaksanakannya maka keburukan tersebut tidak dicatat sama sekali. Akan tetapi, jika dia melaksanakannya maka hanya dicatat satu keburukan saja.”

Aku turun lagi menemui Musa AS dan memberinya penjelasan. Dia masih berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi.” Aku pun menukas, “Aku telah berulang kali menemui Tuhanku, aku merasa malu terhadap-Nya.” (HR. Muslim)

Mureks