Setiap tahun, awal puasa Ramadan selalu berubah dan cenderung maju jika dilihat dari kalender Masehi. Fenomena ini terjadi karena penanggalan Islam, yang dikenal sebagai kalender Hijriah, berpatokan pada peredaran bulan, berbeda dengan kalender Masehi yang didasarkan pada pergerakan matahari. Perbedaan sistem penanggalan ini juga kerap memicu perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia, baik antara pemerintah maupun organisasi Islam.
Alasan Awal Ramadan Selalu Bergeser
Penentuan awal Ramadan didasarkan pada kalender Hijriah, sebuah sistem penanggalan yang digunakan umat Islam dan berpatokan pada siklus peredaran bulan mengelilingi bumi. Satu kali peredaran bulan dari fase bulan baru ke bulan baru berikutnya berlangsung sekitar 29,5 hari. Dalam satu tahun Hijriah, terdapat 12 bulan, sehingga jumlah harinya lebih sedikit dibandingkan kalender Masehi.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Mureks mencatat bahwa satu tahun Hijriah memiliki sekitar 354 hari, sementara kalender Masehi memiliki 365 hari atau 366 hari pada tahun kabisat. Akibatnya, kalender Hijriah maju sekitar 10-11 hari setiap tahun. Inilah sebabnya puasa Ramadan selalu datang lebih awal dari tahun sebelumnya jika dibandingkan dengan kalender Masehi. Menurut Ida Fitri Shohibah dalam bukunya Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriah, pergerakan bulan yang tidak sejalan dengan peredaran matahari menyebabkan hari-hari besar Islam, termasuk Ramadan dan musim haji, dapat terjadi pada musim yang berbeda-beda, baik di musim panas maupun musim dingin.
Perbedaan Metode Penentuan Awal Puasa Ramadan
Perbedaan cara menentukan awal puasa Ramadan kerap terjadi antara pemerintah, organisasi Islam di Indonesia, hingga negara-negara Arab. Masing-masing pihak memiliki metode dan kriteria tersendiri dalam menetapkan awal bulan suci.
Pemerintah Indonesia
Mengacu pada buku Amalan di Bulan Ramadan karya Mardiyah, pemerintah Indonesia menetapkan awal Ramadan dengan menggunakan dua cara. Pertama, melalui pengamatan langsung terhadap bulan sabit pertama (rukyatul hilal). Kedua, dengan perhitungan ilmu falak atau astronomi yang dikenal sebagai metode hisab.
Dalam penetapannya, pemerintah juga berpedoman pada kriteria terbaru Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria ini menyebutkan bahwa hilal dianggap terlihat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan jarak sudut antara bulan dan matahari (elongasi) minimal 6,4 derajat.
Nahdlatul Ulama (NU)
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggunakan metode hisab imkanur rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU). Metode ini merupakan gabungan antara perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal di berbagai lokasi yang telah ditentukan.
Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid menetapkan awal Ramadan dengan metode hisab hakiki wujudul hilal. Dalam metode ini, awal bulan baru ditetapkan apabila posisi bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, meskipun ketinggiannya hanya sekitar 0,1 derajat. Jika syarat ini terpenuhi, maka keesokan harinya sudah dianggap sebagai tanggal 1 Ramadan.
Mulai tahun 1447 Hijriah, Muhammadiyah akan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai dasar penetapan awal Ramadan dan bulan-bulan Hijriah lainnya. Kalender ini menganut prinsip satu hari satu tanggal yang berlaku secara global dan menganggap seluruh permukaan bumi sebagai satu kesatuan wilayah penentuan waktu (satu matlak).
Negara-negara Arab
Adapun di negara-negara Arab, penetapan awal Ramadan umumnya diumumkan setelah dilakukan pengamatan hilal pada tanggal 29 bulan Syakban.
Prediksi Awal Puasa Ramadan 2026
Berdasarkan pantauan Mureks pada kalender Hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama, awal puasa Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Tanggal ini tercantum dalam kalender resmi Kemenag yang digunakan sebagai pedoman awal penentuan hari-hari besar Islam.
Namun, kepastian awal puasa baru akan ditetapkan melalui sidang isbat yang biasanya digelar pada tanggal 29 Syakban. Dalam sidang isbat, pemerintah akan mempertimbangkan hasil pengamatan hilal secara langsung serta perhitungan astronomi yang dilakukan menjelang akhir bulan Syakban. Cara ini juga sejalan dengan metode yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU).
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa awal Ramadan 2026 jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Muhammadiyah juga menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran pada 20 Maret 2026. Perbedaan perkiraan awal puasa Ramadan 2026 ini terjadi karena adanya perbedaan metode dalam penentuan kalender Hijriah. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari masing-masing pihak untuk kepastian menjalankan ibadah puasa.
Fenomena Dua Kali Ramadan dalam Setahun Masehi di 2030
Pada tahun 2030, umat Islam akan menjalani ibadah puasa Ramadan sebanyak dua kali dalam satu tahun Masehi. Peristiwa ini jarang ditemui dan terjadi karena pada tahun tersebut kalender Hijriah berada di dua tahun sekaligus, yaitu 1451 Hijriah dan 1452 Hijriah.
Berdasarkan kalender Hijriah dari situs Islamic Hijri Calendar, Ramadan 1451 Hijriah diperkirakan jatuh pada Januari 2030, sedangkan Ramadan 1452 Hijriah berlangsung pada Desember 2030. Alhasil, umat Islam akan melaksanakan puasa Ramadan dua kali dalam satu tahun. Meski demikian, Idul Fitri hanya diperingati satu kali pada tahun 2030, karena Idul Fitri 1452 Hijriah baru jatuh pada Januari 2031.
Ibrahim Al Jarwan, Anggota Federasi Ilmu Antariksa dan Astronomi Arab, menjelaskan bahwa kalender Hijriah didasarkan pada peredaran Bulan. Setiap tahunnya, kalender Hijriah maju sekitar 11 hari dibandingkan kalender Masehi yang menggunakan peredaran Matahari. Dalam satu tahun, kalender Hijriah terdiri dari 354 hari, sedangkan kalender Masehi memiliki 365 hari. Menurut Al Jarwan, peristiwa bulan Ramadan yang terjadi dua kali dalam satu tahun Masehi ini akan berulang setiap sekitar 33 tahun. Kejadian serupa sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1997 dan diperkirakan akan kembali terjadi pada tahun 2030 dan 2063.
Referensi penulisan: www.detik.com






