Menjaga lisan dan perilaku merupakan fondasi utama akhlak mulia dalam ajaran Islam. Namun, di tengah masyarakat, masih kerap ditemukan tindakan tercela yang berpotensi merusak tatanan sosial: adu domba. Perilaku ini, yang didefinisikan sebagai upaya memicu pertikaian antara pihak-pihak rukun melalui penyebaran informasi provokatif atau tidak benar, mendapat sorotan serius dalam syariat Islam.
Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan keras terhadap para pelaku adu domba. Menurut Mureks, tindakan ini tidak hanya merusak ikatan persaudaraan, tetapi juga membawa konsekuensi spiritual yang sangat berat, yakni ancaman tidak akan mencicipi surga.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Dalil Larangan Adu Domba dalam Islam
Larangan tegas mengenai adu domba ini termaktub dalam berbagai sumber hukum Islam, baik Al-Qur’an maupun Hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu riwayat sahih yang menggarisbawahi bahaya perbuatan ini terdapat dalam buku 50 Hadis Pilihan susunan Muhammad Murtadha.
Dari Hudzaifah RA, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba.'” (HR Muslim).
Selain hadis, Al-Qur’an juga secara eksplisit menegaskan besarnya dosa adu domba. Allah SWT berfirman dalam surah Al Qalam ayat 10-12:
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻄِﻊْ ﻛُﻞَّ ﺣَﻠَّﺎﻑٍ ﻣَﻬِﻴﻦٍ ( 10 ) ﻫَﻤَّﺎﺯٍ ﻣَﺸَّﺎﺀٍ ﺑِﻨَﻤِﻴﻢٍ ( 11 ) ﻣَﻨَّﺎﻉٍ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻣُﻌْﺘَﺪٍ ﺃَﺛِﻴﻢٍ
Artinya: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari mengadu domba, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”
Peringatan tentang bahaya adu domba juga diperkuat dengan kisah nyata yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Rasulullah SAW pernah melewati sebuah kebun dan mendengar suara dua orang yang sedang disiksa dalam kuburnya.
Nabi bersabda, “Keduanya sedang disiksa dan tidaklah keduanya disiksa karena masalah yang besar (sulit untuk ditinggalkan).” Kemudian beliau kembali bersabda, “Ketahuilah kedua perbuatan tersebut merupakan dosa besar. Orang yang pertama tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya sendiri. Sedangkan orang kedua suka melakukan namimah (adu domba).” (HR. Bukhari).
Dampak dan Bahaya Perbuatan Mengadu Domba
Dosa adu domba tidak hanya berdampak pada aspek spiritual pelakunya, tetapi juga memiliki konsekuensi sosial yang sangat merusak. Dikutip dari Kitab Syarah Riyadhus Shalihin Imam An-Nawawi yang diterjemahkan oleh Misbah, orang yang suka mengadu domba, meskipun tahu bahwa hal itu salah, tidak akan masuk surga.
Tim redaksi Mureks mencatat bahwa berbeda dengan mereka yang pada akhirnya bisa selamat dari api neraka, pelaku adu domba terancam kehilangan keselamatan tersebut karena beratnya dosa yang mereka perbuat di dunia.
Secara sosial, ketika seseorang menyebarkan kabar atau perkataan untuk memicu perselisihan, rasa saling percaya antar teman, tetangga, atau bahkan keluarga bisa hilang dalam sekejap. Perbuatan ini cenderung memicu perselisihan yang sulit diredam dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Perselisihan yang awalnya kecil dapat membesar, bahkan menimbulkan permusuhan yang sulit diperbaiki, sehingga keharmonisan dalam keluarga, lingkungan, atau komunitas menjadi rusak. Dampak negatif adu domba terasa begitu luas, seakan-akan ia bisa menghancurkan pondasi persaudaraan dan persahabatan. Selain merusak ketenangan, tindakan ini juga menorehkan trauma batin serta menciptakan suasana yang penuh rasa curiga dan ketegangan di tengah masyarakat.
Wallahu a’lam.






