Lifestyle

Mengungkap Pesan Kemanusiaan Surat Al Maun: Ibadah Sejati Teruji dari Kepedulian Sosial

Surat Al Maun, salah satu surat pendek dalam Al-Quran yang terletak di juz 30 atau juz amma, membawa pesan mendalam tentang esensi keimanan dan kepedulian sosial. Surat ke-107 ini tergolong Makkiyah, diturunkan di Makkah, dengan nama “Al Maun” yang berarti “barang-barang yang bermanfaat atau berguna,” sebagaimana tersirat pada ayat ketujuh.

Mureks mencatat bahwa surat ini tidak hanya mengajarkan tentang ritual ibadah, tetapi juga menyoroti pentingnya akhlak dan interaksi sosial sebagai cerminan keimanan sejati. Berikut adalah bacaan lengkap Surat Al Maun ayat 1-7, beserta tafsir singkat dan isi kandungannya.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Bacaan Surat Al Maun Ayat 1-7

1. Ayat 1

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ

Ara’aital-lażī yukażżibu bid-dīn(i).

Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?”

2. Ayat 2

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ

Fa żālikal-lażī yadu”ul-yatīm(a).

Artinya: “Itulah orang yang menghardik anak yatim.”

3. Ayat 3

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ

Wa lā yaḥuḍḍu ‘alā ṭa’āmil-miskīn(i).

Artinya: “Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.”

4. Ayat 4

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

Fawailul lil-muṣallīn(a).

Artinya: “Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat,”

5. Ayat 5

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

Allażīna hum ‘an ṣalātihim sāhūn(a).

Artinya: “(Yaitu) yang lalai terhadap salatnya,”

6. Ayat 6

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

Allażīna hum yurā’ūn(a).

Artinya: “Yang berbuat riya,”

7. Ayat 7

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

Wa yamna’ūnal-mā’ūn(a).

Artinya: “Dan enggan (memberi) bantuan.”

Tafsir Singkat Surat Al Maun

Berdasarkan Tafsir Al-Quran Kementerian Agama RI, Surat Al Maun ayat 1-7 secara gamblang menjelaskan tanda-tanda orang yang mendustakan agama. Surat ini juga menjadi peringatan keras dari Allah SWT terhadap sikap abai terhadap kepedulian sesama.

Tafsir Ayat Pertama

Pada ayat pertama, Allah SWT melontarkan pertanyaan retoris kepada Nabi Muhammad SAW mengenai identitas pendusta agama. Pertanyaan ini berfungsi sebagai pembuka untuk penjelasan yang lebih rinci dan mendalam pada ayat-ayat berikutnya.

Tafsir Ayat Kedua

Ayat kedua menguraikan salah satu ciri utama pendusta agama, yaitu mereka yang menolak dan membentak anak yatim. Anak yatim yang datang memohon belas kasih demi kelangsungan hidupnya justru dihardik, menunjukkan penghinaan dan kesombongan yang nyata.

Tafsir Ayat Ketiga

Allah SWT melanjutkan penjelasan pada ayat ketiga, menegaskan bahwa pendusta agama juga enggan mengajak orang lain untuk memberi makan orang miskin. Sikap ini mengindikasikan bahwa jika mereka tidak mendorong kebaikan tersebut, kemungkinan besar mereka sendiri pun tidak melakukannya. Oleh karena itu, bagi yang belum mampu membantu langsung, anjuran untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan menjadi sangat penting.

Tafsir Ayat Keempat dan Kelima

Ancaman keras disampaikan pada ayat keempat dan kelima bagi mereka yang melaksanakan salat namun tanpa kehadiran hati dan penghayatan. Salat mereka hanya sebatas gerakan dan ucapan, hampa makna, sehingga tidak mampu memberikan dampak positif dalam kehidupan. Penjelasan ini, menurut tafsir, lebih ditujukan kepada orang-orang munafik, bukan muslim awam yang mungkin belum sepenuhnya memahami makna bacaan salat.

Tafsir Ayat Keenam

Ayat keenam mengungkap sifat lain dari pendusta agama, yakni melakukan amal kebaikan semata-mata untuk pamer atau mencari pujian dari manusia (riya). Ibadah mereka kehilangan esensi ketulusan dan hanya berorientasi pada pengakuan duniawi.

Tafsir Ayat Ketujuh

Ciri terakhir pendusta agama, seperti dijelaskan pada ayat ketujuh, adalah keengganan mereka meminjamkan atau memberikan barang-barang sederhana yang sebenarnya sangat dibutuhkan orang lain. Barang-barang seperti peralatan rumah tangga atau alat kerja, yang seharusnya tidak pantas ditahan, justru enggan mereka berikan. Sebaliknya, orang yang benar-benar memuliakan agama akan senantiasa menampilkan akhlak mulia seperti jujur, adil, penuh kasih sayang, dan dermawan.

Isi Kandungan Surat Al Maun

Dari tafsir yang telah diuraikan, pesan utama Surat Al Maun menegaskan bahwa agama tidak cukup hanya dinilai dari aspek ibadah ritual semata, melainkan juga dari sejauh mana kepedulian seseorang terhadap sesama. Orang yang mendustakan agama digambarkan sebagai individu yang mengabaikan anak yatim, tidak peduli terhadap orang miskin, melaksanakan salat tanpa keikhlasan, gemar pamer, serta enggan menolong orang lain, bahkan dengan bantuan yang paling sederhana sekalipun.

Melalui surat ini, Allah SWT mengingatkan beberapa poin penting:

  • Ibadah harus dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan penghayatan. Salat yang dilakukan tanpa menghadirkan hati tidak memiliki nilai yang berarti.
  • Keimanan seseorang tercermin dari sikapnya kepada mereka yang membutuhkan. Cara memperlakukan anak yatim dan orang miskin menjadi indikator kualitas iman.
  • Sifat riya, sombong, dan kikir merupakan tanda-tanda melemahnya keimanan dalam diri seseorang.
  • Kebaikan sekecil apa pun tetap memiliki nilai. Memberikan atau meminjamkan barang sederhana yang bermanfaat merupakan bagian integral dari akhlak terpuji.

Sifat-sifat Buruk Manusia dalam Surat Al Maun

Dalam Surah Al Maun, dijelaskan beberapa perilaku buruk manusia yang menjadi ciri pendusta agama. Mengutip buku Quran Hadits karya Muhaemin, berikut adalah sifat-sifat tersebut:

  • Orang yang bersikap kasar dan suka menghardik anak yatim.
  • Orang yang tidak mau membantu atau memberi makan kepada fakir miskin.
  • Orang yang lalai dalam melaksanakan salat dan tidak sungguh-sungguh menjalaninya.
  • Orang yang berbuat kebaikan hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain (riya).
  • Orang yang enggan menolong sesama, padahal ia memiliki kemampuan untuk membantu.

Referensi penulisan: www.detik.com

Mureks