Sabtu, 10 Januari 2026 – Perusahaan-perusahaan minyak global kini tengah berlomba untuk mengamankan kapal tanker dan menyusun strategi logistik darurat. Tujuannya adalah mengirimkan minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat (AS) setelah keran ekspor kembali dibuka pasca-tersingkirnya Presiden Nicolas Maduro.
Sejumlah raksasa perdagangan dan energi dunia, termasuk Chevron, Vitol, dan Trafigura, dilaporkan bersaing ketat untuk mendapatkan kontrak dari pemerintah AS. Bahkan, Trafigura dalam pertemuan dengan Gedung Putih pada Jumat lalu, telah menyampaikan bahwa kapal pertamanya dijadwalkan mulai memuat minyak dalam waktu sepekan ke depan. Persaingan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya berada di bawah sanksi kepada AS.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Tantangan Logistik dan Armada Tua
Proses pengiriman minyak ini tidak berjalan mulus. Selama beberapa bulan terakhir, Venezuela menghadapi blokade yang menyebabkan penumpukan minyak di kapal tanker dan tangki darat hingga nyaris penuh. Menurut catatan Mureks, banyak dari kapal tersebut sudah tua, kurang terawat, dan masih berstatus sanksi.
Sumber Reuters yang mengetahui proses ini mengungkapkan, kapal lain tidak dapat bersentuhan langsung dengan kapal yang disanksi karena risiko hukum dan asuransi, bahkan jika AS telah memberikan izin khusus. Selain itu, tangki penyimpanan di darat juga dilaporkan sudah bertahun-tahun tidak dirawat, meningkatkan risiko kebocoran atau kecelakaan saat proses pemuatan.
Solusi Transfer dan Peran Perusahaan Pelayaran
Menanggapi tantangan ini, perusahaan pelayaran besar seperti Maersk dan American Eagle Tankers (AET) tengah menjajaki perluasan operasi transfer kapal-ke-kapal (ship-to-ship transfer) di wilayah Venezuela. Salah satu sumber menyebutkan Maersk berpotensi mengulang skema logistik yang pernah digunakan di Teluk Amuay, Venezuela, dengan memindahkan minyak dari kapal ke darat lalu ke kapal lain.
Maersk juga memiliki operasi di Aruba dan Curaçao, wilayah yang kerap menjadi titik transit minyak Venezuela, meskipun biayanya lebih mahal. Dalam pernyataannya pada Sabtu (10/1/2026), Maersk mengonfirmasi kehadiran mereka di Venezuela terbatas dengan sekitar 17 karyawan yang semuanya dalam kondisi aman. “Dengan 17 karyawan di negara ini, kehadiran Maersk di Venezuela terbatas. Semua karyawan aman dan bertanggung jawab, dan saat ini tidak ada perubahan pada layanan laut kami. Operasi terus berlanjut, dengan hanya penundaan kecil pada tahap ini, dan kami terus memantau situasi dengan cermat,” kata perusahaan itu.
Sementara itu, AET, yang selama ini membantu pengiriman minyak Chevron dari Venezuela ke AS, juga dilaporkan dihubungi sejumlah calon klien baru untuk menambah kapasitas pengiriman.
Target dan Realitas Pasokan Minyak
Jika operasi berjalan optimal, pasokan minyak Venezuela ke AS berpotensi kembali ke level sebelum sanksi, yakni sekitar 500.000 barel per hari. Dengan volume tersebut, stok minyak yang menumpuk bisa terkuras dalam waktu 90 hingga 120 hari. Namun, para pelaku industri menilai target tersebut sulit dicapai.
Kesulitan ini terutama disebabkan oleh keharusan mengambil minyak baik dari kapal tanker penyimpanan maupun dari fasilitas darat yang infrastrukturnya sudah menua. Selain itu, persaingan juga memanas di terminal minyak Jose, pelabuhan utama Venezuela, yang memiliki keterbatasan kapasitas dan kecepatan bongkar muat.
Chevron, sebagai mitra usaha patungan utama di negara tersebut, disebut tengah berupaya keras mempertahankan posisi istimewanya di terminal-terminal tersebut sambil menyiapkan armada kapalnya sendiri. Tak hanya kapal dan terminal, perusahaan-perusahaan minyak juga kini berburu naphtha, bahan penting untuk mencampur minyak berat Venezuela agar lebih encer dan mudah diangkut serta diproses di kilang.






