Keuangan

OJK Desak Lembaga Keuangan RI Perketat Pemantauan Risiko Imbas Konflik AS-Venezuela yang Memanas

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendesak seluruh lembaga jasa keuangan di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan intensif terhadap potensi risiko yang muncul akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Meskipun dampak jangka pendek belum terlihat, ketidakpastian stabilitas politik global menjadi perhatian utama.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan pentingnya langkah ini dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada Jumat, 9 Januari 2026. “Kami tentu meminta semua lembaga jasa keuangan untuk cermati dan pemantauan yang intensif terhadap risiko ini baik pasar, likuiditas maupun kredit pembiayaan,” ujar Mahendra.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Mahendra menjelaskan bahwa para pelaku jasa keuangan, termasuk di pasar keuangan, terus mencermati perkembangan geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan konflik AS-Venezuela. Mereka juga memantau potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global. Sejauh ini, menurut Mahendra, dampak konflik kedua negara terhadap komoditas ekspor unggulan Indonesia belum terlihat signifikan.

“Sekalipun demikian kita tentu harus cermati perkembangan dan risiko kepada perekonomian dan sektor jasa keuangan dalam jangka menengah panjang,” tambahnya, menekankan perlunya kewaspadaan jangka panjang.

Eskalasi Konflik AS-Venezuela

Konflik antara Washington dan Caracas sendiri telah menunjukkan eskalasi dalam beberapa waktu terakhir. Pejabat AS, yang berbicara secara anonim kepada Reuters pada Sabtu, 3 Januari 2026, mengakui telah melancarkan serangan yang menyebabkan ledakan keras disertai suara mirip deru pesawat di Caracas, Venezuela, pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Serangan ini terjadi setelah Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Kamis sebelumnya menyatakan keterbukaannya untuk bekerja sama dengan Washington, menyusul berminggu-minggu tekanan militer dari Amerika Serikat.

Pemerintahan mantan Presiden Donald Trump secara konsisten menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan menyatakan telah meningkatkan upaya pemberantasan perdagangan narkoba. Tuduhan ini dibantah keras oleh Maduro, yang menilai Washington berupaya menggulingkan pemerintahannya demi menguasai cadangan minyak terbesar di dunia yang dimiliki Venezuela.

Tekanan AS terhadap Caracas terus meningkat, mencakup penutupan wilayah udara Venezuela secara tidak resmi, penambahan sanksi ekonomi, hingga perintah penyitaan kapal tanker yang mengangkut minyak Venezuela. Dalam ringkasan Mureks, Trump juga berulang kali mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di kawasan tersebut, dengan menyebut aksi itu akan dimulai segera. Pernyataan pada Senin sebelumnya dinilai sebagai indikasi awal dari ancaman tersebut.

Selain itu, sejak September, pasukan AS dilaporkan telah melakukan puluhan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur. Operasi ini diklaim sebagai bagian dari upaya anti-narkoba. Namun, pemerintah AS belum membeberkan bukti keterlibatan kapal-kapal tersebut. Militer AS mencatat sedikitnya 107 orang tewas dalam sedikitnya 30 serangan maritim yang telah dilakukan.

Mureks