Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan telah mengklaim kepada para menteri kabinetnya bahwa Amerika Serikat tidak akan menghalangi potensi langkah militer Israel di Lebanon. Klaim ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan kedua negara.
Menurut laporan penyiar publik Israel, Kan, yang dikutip oleh Middle East Monitor pada Jumat (9/1/2026), Netanyahu menyatakan telah mengantongi “lampu hijau” dari Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan ke wilayah negara Arab tersebut.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pembicaraan mengenai kemungkinan perluasan serangan Israel di Lebanon ini disebut telah dibahas Netanyahu dalam pertemuannya dengan Trump di Florida pada akhir Desember 2025. Pertemuan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran Israel bahwa kelompok Hizbullah telah memanfaatkan periode gencatan senjata untuk memulihkan sebagian kekuatan militernya.
Kekhawatiran Israel terhadap Hizbullah
Laporan Kan, yang mengutip dua sumber yang mengetahui situasi, juga mengungkapkan bahwa Israel tengah mempertimbangkan operasi militer di Lebanon. Operasi ini ditujukan untuk menghilangkan apa yang disebut sebagai “ancaman Hizbullah” di perbatasan.
Para pejabat Israel menilai, Hizbullah berhasil membangun kembali sebagian kapabilitasnya selama periode relatif tenang di perbatasan. Selain itu, mereka juga mengeklaim bahwa pemerintah Lebanon tidak memiliki kemampuan atau kekuatan yang memadai untuk menghadapi dan mengekang kelompok bersenjata tersebut.
Sikap Amerika Serikat dan Dialog
Sumber-sumber yang dikutip Kan menyebutkan bahwa pemerintahan Trump tidak menutup kemungkinan Israel melakukan operasi militer terhadap Hizbullah. Namun, Netanyahu disebut diminta untuk menunda pengambilan keputusan final. Penundaan ini bertujuan untuk memberi ruang bagi dialog lanjutan dengan pemerintah Lebanon.
Dalam ringkasan Mureks, situasi di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel terus diwarnai insiden dan saling tuding. Di dalam negeri Israel sendiri, perdebatan semakin menguat mengenai kegagalan upaya politik dan diplomatik untuk memaksa Hizbullah melucuti senjatanya.
Kondisi ini mendorong munculnya wacana tentang fase baru dalam perhitungan strategis Israel, di mana opsi militer kembali dipertimbangkan secara lebih serius, meskipun dengan pendekatan yang disebut hati-hati.






