Kenaikan gaji pekerja yang melampaui laju inflasi nasional ternyata belum sepenuhnya meredakan tekanan ekonomi di tingkat rumah tangga. Fenomena ini menjadi sorotan, mengingat data menunjukkan adanya peningkatan upah yang signifikan.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa secara persentase, kenaikan gaji saat ini memang sudah lebih tinggi dibandingkan inflasi. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), inflasi nasional pada November 2025 tercatat sebesar 2,72 persen secara tahunan. Sementara itu, kenaikan upah minimum provinsi (UMP) untuk tahun 2026 berada di kisaran 5 hingga 7 persen.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Struktur Pendapatan Nasional yang Masih Rendah Jadi Akar Masalah
Namun, Myrdal menegaskan bahwa besaran kenaikan gaji tersebut tidak serta-merta mampu mengentaskan masyarakat dari tekanan biaya hidup sehari-hari. Menurutnya, persoalan utamanya terletak pada struktur pendapatan nasional yang masih relatif rendah.
“Jadi ya kenaikan upah itu sebenarnya jauh lebih tinggi daripada inflasi. Tapi kita itu masih ada kendala di mana pendapatan per kapita kita Indonesia itu masih rendah,” ujar Myrdal kepada Kompas.com, ditulis pada Rabu (1/1/2026).
Myrdal memaparkan, jika dibandingkan dengan negara maju maupun negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, pendapatan per kapita Indonesia masih tertinggal jauh. Kondisi ini menyebabkan kenaikan upah yang secara persentase terlihat cukup tinggi menjadi kurang terasa bagi sebagian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Perbandingan Pendapatan Per Kapita Indonesia dengan Negara Lain
Mureks mencatat bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pendapatan per kapita Indonesia tahun 2024 mencapai sekitar 4.960,3 dollar AS atau setara Rp 78,6 juta dalam setahun. Angka ini jauh di bawah negara-negara tetangga.
- Malaysia: 11.874 dollar AS (Bank Dunia, periode yang sama)
- Singapura: 90.674 dollar AS (Bank Dunia, periode yang sama)
- Thailand: 7.346 dollar AS (Bank Dunia, periode yang sama)
Akibatnya, pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier masih menjadi tantangan bagi banyak rumah tangga, khususnya di wilayah perkotaan. Kenaikan gaji dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan hidup yang terus meningkat.
“Makanya kenapa ya kalau kita lihat dari sisi masyarakat kita, memang untuk kebutuhan, pemenuhan kebutuhan tersier maupun sekundernya itu banyak yang masih tertatih-tatih ya,” ungkap Myrdal.
Pertumbuhan Ekonomi Agresif sebagai Solusi
Oleh karenanya, untuk mengatasi tekanan hidup pada masyarakat, tidak hanya sebatas menaikkan upah di atas inflasi. Myrdal menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi prasyarat utama untuk mendorong kenaikan pendapatan per kapita secara signifikan.
“Itulah kenapa ya kalau kita lihat spirit pemerintah kenapa ingin supaya ekonomi kita itu tumbuh 8 persen,” kata Myrdal.
Ia menilai, jika ekonomi Indonesia mampu tumbuh minimal 8 persen dalam beberapa tahun ke depan, hal tersebut dapat menjadi modal awal bagi Indonesia untuk bertransformasi menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita yang jauh lebih tinggi.
“Kalau pendapatan per kapitanya besar seperti negara maju ya otomatis pemenuhan kebutuhan sekunder, tersier dari masyarakat kita juga lebih terpenuhi atau lebih sejahtera,” tuturnya.






