Pergantian tahun selalu menjadi momentum krusial bagi banyak individu untuk merancang target baru, termasuk dalam aspek keuangan. Namun, ide resolusi finansial tidak selalu menuntut perubahan besar yang instan. Memasuki awal tahun 2026, dengan kondisi ekonomi yang masih menunjukkan dinamika, penetapan resolusi keuangan akan lebih relevan jika dimulai dari pemahaman fundamental posisi finansial saat ini, diikuti dengan penetapan tujuan yang spesifik, serta implementasi kebiasaan kecil secara konsisten.
Sejumlah indikator ekonomi terbaru memberikan gambaran latar belakang yang penting untuk dipertimbangkan dalam merancang resolusi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada November 2025 berada di angka 2,72 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di sisi lain, keyakinan konsumen justru menunjukkan peningkatan pada periode yang sama, dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai 124,0. Angka ini mengindikasikan optimisme karena berada di atas level 100.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Namun, pantauan Mureks menunjukkan adanya pekerjaan rumah di tingkat rumah tangga terkait literasi dan inklusi keuangan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BPS memperlihatkan bahwa metode “Keberlanjutan” mencatat indeks literasi keuangan sebesar 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen. Sementara itu, metode “Cakupan DNKI” mencatat literasi 66,64 persen dan inklusi 92,74 persen. Angka-angka ini sering diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa akses terhadap layanan keuangan dapat meluas lebih cepat dibandingkan dengan pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam mengelolanya.
Dengan mempertimbangkan konteks tersebut, ide resolusi keuangan 2026 dapat disusun secara lebih logis. Urutannya dimulai dari audit kondisi finansial, penetapan target yang jelas, penyiapan bantalan risiko, dan barulah kemudian mengejar pertumbuhan aset.
Audit Kondisi Keuangan 2025: Langkah Awal Resolusi Efektif
Banyak rencana keuangan mengalami kegagalan bukan karena targetnya terlalu kecil, melainkan karena tidak didasari oleh peta kondisi yang jelas. Oleh karena itu, langkah pertama yang sangat dianjurkan adalah mengevaluasi kondisi keuangan selama setahun terakhir, meliputi pengeluaran, pendapatan, utang, tabungan, serta pola konsumsi.
Audit sederhana biasanya mencakup:
- Daftar pemasukan rutin dan tidak rutin
- Pengeluaran wajib (cicilan, kontrakan/KPR, utilitas)
- Pengeluaran variabel (transportasi, makan, hiburan)
- Biaya tahunan (pajak, sekolah, servis kendaraan)
- Utang (konsumtif versus produktif)
Tujuan dari audit ini bukanlah untuk “menghakimi” setiap pengeluaran, melainkan untuk menemukan pola. Identifikasi pos mana yang membengkak, kapan sering terjadi belanja impulsif, dan apakah ada biaya yang bisa dirasionalisasi, misalnya langganan layanan yang jarang terpakai.
Transformasi Resolusi Menjadi Target Keuangan yang Terukur
Resolusi yang bersifat umum, seperti “ingin lebih hemat”, seringkali kalah oleh kebutuhan harian karena tidak memiliki ukuran yang jelas. Sebaliknya, target yang spesifik dan terukur akan lebih mudah dipantau dan dicapai. Contohnya, “menambah tabungan Rp 500.000 per minggu” atau “melunasi kartu kredit Rp 1 juta per bulan sampai Juni”.
Survei Fidelity, yang dikutip dari Reuters, menggambarkan pola resolusi yang cukup klasik di kalangan masyarakat. Hasil survei menunjukkan bahwa 43 persen responden bertekad untuk “menabung lebih banyak”, 37 persen berencana “bayar utang”, dan 31 persen ingin “mengurangi pengeluaran”. Angka-angka ini menegaskan pentingnya menetapkan tujuan yang konkret agar resolusi keuangan dapat terealisasi.






